Sabtu, 06 April 2013

Adaptasi Terus, Terus Adaptasi


Adapatasi memang suatu proses sepanjang hidup, dijalani terus, terus seperti lingkaran yang tak putus garisnya. Mana ada coba orang yang merasa berhenti beradaptasi, berarti sudah berhenti berproses dong. Paling tidak itulah yang saya rasakan. Tiap hari adalah proses adaptasi terhadap apapun, sekecil apapun. Mungkin saya tidak begitu menghiraukannya karena bukan suatu hal yang besar, jadi ya tidak perlu dibesar-besarkan. Intinya kali ini saya ingin menuliskan proses adaptasi selama saya disini, tak lama setelah saya sampai disini, hingga saat ini, paling tidak hingga saya menulis renungan ini.

Perubahan waktu
Sesampainya di bandara, harus segera mengubah jam di HP nih, biar tahu jam berapa sekarang. Ini sangat penting karena ada hubungannya dengan jadwal sholat. Sebelum turun dari pesawat buru-buru mengambil HP dan mencocokkan jamnya sesuai dengan jam yang ada di pesawat. Keluar dari bandara waktu itu sekitar jam 2 siang lah, tapi kenapa badan ini rasanya ngantuuuuuk berat. Mungkin kecapekan kali ya....wajar kan perjalanan selama kurang lebih 14 jam, pastilah badan remuk redam. Begitu sampai di flat baru (baru disewa maksudnya), udah nggak kuat ngapa-ngapain, pengennya tidur terus. usut punya usut, ternyata fisik ini masih jet lag.
Di Indonesia sebenarnya sudah larut malam, tapi disini masih sore, karena tubuh masih mengikuti jam biologis Indonesia, jadilah ngantuk berat di sore hari. Jadi ngantuknya bukan sekedar kecapekan tapi tubuh masih belum seratus persen "ngeh" dengan situasi baru, jadilah adaptasi. Oiya jadwal sholat juga jadi sedikit
tiba di bandara
membingungkan jam biologis ini, bayangin aja Isya pertama kali disini jam setengah 9, jadi lah abinya Ara menahan-nahan kantuk nunggu waktu sholat, kalau saya sedang libur waktu itu, jadi ya langsung lelap.....zzzzzzz.
Waktu sholat, hingga saat ini juga harus terus dipantau, karena perubahan jadwalnya ekstrim, dan drastis, proses penyesuaian terus berjalan....Seperti saat ini saja jadwal shalat magrib jam 07.30 an, dan sholat isya 09.30 an itu blm di akhir bulan semakin malam lagi jadwal sholat maghrib dan isya'nya, maklum ini masuk spring.

Perubahan suhu
Selama di bandara masih hangat, pakai jaket dari Indonesia, tetep, masih anget waktu itu. Nengok keluar bandara, Alhamdulillah cerah, ada matahari. Syukurlah, saya waktu itu cuma takut mimisan karena dingin,
persiapan tidur
atau biduran karena saya memang alergi dingin, selama di Malang kalau dingin langsung bentol-bentol. Eh begitu keluar bandara, angin menyambut dengan gegap gempita....serrrrr langsung kerasa dinginnya, meski ada matahari lho....
Sesampainya di flat, nah belum bisa nyalain heater, jadi malam pertama waktu itu cuma tidur berselimut duvet, meringkuk, berpakaian super lengkap mulai ujung kaki sampai ujung kepala seperti orang mendaki gunung lah pokoknya. Ini namanya penyesuaian diri untuk bertahan hidup dari udara dingin di dalam rumah he3....
Besoknya sudah diajari bagaimana cara menyalakan heater dengan baik dan benar. Asyik...merdeka....nanti malam tidurnya sudah hangat. Malam harinya, tetep berpakaian lengkap dari ujung kaki sampai ujung kepala, berselimut duvet dan kruntelan bertiga. tetep dingin, menurut saya masih kedinginan juga. Kadang saya menyandarkan punggung ke heater jika merasa sangat kedinginan. Terus adaptasi ya....padahal belum salju lho, masih autumn waktu itu.

jaket ini sudah tidak
 pernah saya pakai lagi
Pakaian
Saya nyiapain banyak baju lengan panjang dan jaket yang saya kira sudah cukup hangat, dan "sumuk" menurut standar Indonesia. tapi begitu sampai disini, baju-baju itu malah jarang terpakai, akhir-akhir ini malah tidak pernah saya pakai karena bahan bajunya belum cukup menghangatkan tubuh untuk cuaca disini. Meskipun berlengan panjang, tapi begitu nempel di kulit berasa cesss.....dingin. Akhirnya beralih memakai sweater-sweater yang saya peroleh dari sini. Itupun menurut saya masih belum cukup, jadilah akhirnya pakai baju berlapis-lapis, minimal 3 lapis plus hoodie atau jaket. Itu juga yang disarankan oleh Jenny salah seorang pengajar di kursus untuk menyiasati dingin, apalagi seperti saya yang berasal dari negara sumuk alias negara tropis he3....

Olah Raga
Selama disini frekuensi saya untuk berolah-raga meningkat drastis, hampir tiap hari rutin berolah raga terutama jalan kaki he3.... Alasannya yang pertama pastilah untuk berhemat, jadi ya jalan kaki lumayan bisa menabung beberapa pound jika dibanding naik bis. Semenjak di sini berjalan kaki beberapa kilo sudah menjadi hal yang wajar, padahal di Indonesia kemana-mana naik motor, bahkan ke warung sebelah pun yang jaraknya tidak sampai 1/2 kilometer juga naik motor ck...ck.... Selain itu cuaca dan trotoar di sini memang sangat mendukung bagi para pejalan kaki, jadi jalan itu tidak malas rasanya, awalnya capek sekali
jalan kaki kemana-mana
tapi Alhamdulillah lama-lama terbiasa juga. Bahkan mbak Ara sekarang juga sudah bisa saya ajak jalan kemana-mana. Oiya dan kecepatan berjalan disini tidak lenggang kangkung seperti saat saya berjalan-jalan di rumah dulu, kalau ada tetangga, sapa dulu, ngobrol dulu. Sedangkan disini kalau berjalan ya...."ngujlug" alias pandangan lurus ke depan dengan kecepatan penuh mencapai 50km/ jam he3... lebay...yah pokoknya cepat lah. Kalau saya masih ngos-ngosan jika harus menyamakan langkah dengan orang asli penduduk sini, selain langkahnya kalah cepat juga ukuran kaki yang kalah panjang he3....

Jadwal Belanja
Kalau di rumah saya bisa belanja sayur dan aneka daging ataupun ikan segar setiap pagi karena banyak abang tukang sayur yang lewat depan rumah, atau kalau lagi malas memasak bisa langsung beli jadi di warung Mak Mike, Bu Asih dan harganya murmer alias murah meriah, misalnya rawon seporsi 5000 sudah bisa untuk sehari. Nah di sini berhubung tidak ada abang sayur keliling, saya biasanya belanja seminggu sekali, nye-tok belanjaan untuk seminggu dan disimpan di kulkas. Jika seminggu kok belanjaan sudah menipis ya kalau tidak males, keluar belanja, kalau males keluar karena dingin ya masak seadanya, ngorek-ngorek isi kulkas atau isi lemari. Alhamdulillah masih ada yang dikorek.Biasanya kita di rumah membeli beberapa kilo daging ayam dan telur, itu yang utama. Awalnya tidak terbiasa membeli segitu banyak daging dan telur, akhirnya lama-lama ya terbiasa juga. Belanjanya disini seperti sayur dan daging di tempat semacam minimarket, kita bisa ambil sendiri (terutama sayuran) setelah itu tinggal antri untuk bayar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar