Selasa, 04 Juni 2013

Salah Paham



Namaku Rahmi, panjangnya, em...tidak usah ya...panggil Rahmi aja. Aku baru bekerja di kantor ini, satu bulananlah, kantor apa, rahasia deh....yang jelas di kantor ini banyak pekerjanya laki-laki. Hemmm laki-laki...salah satunya itu yang membuatku tidak terlalu nyaman bekerja disini, khususnya karena seorang laki-laki.

Awalnya adaptasi lancar saja, meski aku belum punya teman akrab, tapi teman untuk "say hai...", ada. Aku tidak terlalu butuh juga sih teman akrab untuk curhat. Tujuanku disini untuk bekerja...ya bekerja saja. Meskipun sebagian besar keluargaku berharap dengan bekerja, aku bisa memperluas pergaulanku, menemukan calon suami, dan segera menikah. Huffftt....lagi-lagi menikah,...ini semua karena dua adik perempuanku sudah menikah saat mereka masih kuliah. Sedang aku, masih sibuk dengan diri sendiri. "Bekerja memang harus serius, harus itu, tapi kamu juga harus memikirkan calon suami...", kata ayah suatu ketika saat aku menyampaikan alasanku untuk serius bekerja dulu.

Di rumah diceramahi soal calon suami, di tempat kerja....duh...laki-laki satu ini benar-benar menyebalkan.

Awalnya saat rapat di depan jajaran direksi sekaligus perkenalanku sebagai pegawai baru di hadapan semua pegawai, perasaanku sudah tidak enak. Matanya itu lho...tidak sungkan-sungkan menatapku, pake melongo pula sampai disenggol teman sebelahnya. Benar-benar tidak sopan. Selanjutnya tidak jarang aku memergokinya curi-curi pandang ke arahku.

Sebel? Jelas, aku merasa direndahkan oleh makhluk yang satu ini. Tersanjung? Idih....jauh kaliii..... Semakin hari, laki-laki satu ini...emm sebut nama nggak ya....oke lah, sebut saja Sigit, belum menikah, sudah punya jabatan di kantor ini, emmm lumayan good looking sih....tapi ndak punya sopan-santun, ya matanya itu yang ndak sopan.

"Eh...tuh orangnya..." sekilas ku mendengar seseorang berbisik-bisik dengan Sigit saat aku berjalan ke arah kantin untuk makan siang. Ah...cari perkara lagi, batinku....kenapa laki-laki ini ngobrolin aku dengan laki-laki lain? Sudah berapa kali dia melakukan ini? Sudah berapa laki-laki yang dia ajak ngomongin tentang aku,....jangan-jangan seisi kantor ini...hiii...ngeri...

Apa sih sebenarnya motifnya? Mencuri pandang lah.....ngomongin di belakang lah.... "Nah...mungkin dia naksir temen kamu....", jawab ayah saat aku membicarakan Sigit dengan sedikit kamuflase bahwa itu terjadi pada teman kantorku.

Naksir?....Ah.....jadi kacau pikiranku...

Pagi itu aku sedikit terlambat masuk ke kantor, aku terburu-buru dan ups....saat terburu-buru membuka pintu...."Awww..." aku mendengar teriakan laki-laki di balik pintu...rupanya Sigit yang juga sedang menuju ke pintu, pintu yang kubuka itu secara tidak sengaja mengenai bahunya dengan keras. "Maaf..." kataku spontan, sesaat aku merasa bersalah. Matanya lagi-lagi menatap tajam ke arahku....lalu...tiba-tiba tangannya mengarah ke bahuku, sebelum sampai, aku segera menghindar dan pergi dengan menunjukkan wajah judesku. Hilang sudah rasa bersalahku seketika itu.

Mulai berani....gumamku dalam hati. Semenjak saat itu, aku tak sungkan-sungkan lagi menunjukkan rasa ketusku, sudah keterlaluan sekali menurutku. Hari-hari berikutnya, beberapa kali pula dia sepertinya berusaha ingin mengajakku bicara, tapi langsung kusambut dengan muka masamku. Rasanya masih belum bisa memaafkan perilaku-perilaku sebelum-sebelumnya. Hingga puncaknya.....siang itu saat aku hendak ke kantin seperti biasa. Dia sudah menyambut di dekat pintu masuk kantin. "Rahmi...." katanya berusaha sesopan mungkin, kali ini dia menahan matanya, sudah kehilangan nyali untuk menatapku rupanya. "Saya minta maaf...", lanjutnya lirih, lalu pergi tanpa melanjutkan kalimatnya ataupun menunggu jawabanku.

Aku terpaku sesaat, antara terkejut dan penuh tanda tanya. Lalu aku segera mengabaikan perasaanku, mendekati penjual kantin dan memesan makan siang kesukaanku. "Seperti biasa ya mbak, kali ini minumnya es jeruk saja".

Aku belum pernah memesan es sebelumnya, hanya saja siang aku aku merasa sangat-sangat kegerahan di ruang kantin kantor yang ber AC ini.

Hari-hari berikutnya lebih tenang bagiku, tidak aka lagi tatapan mata ataupun curi-curi pandang. Juga tak ada lagi kasak-kusuk dibelakangku. Semuanya tenang, hanya saja kepalaku menjadi penuh tanya, kenapa....kenapa...dan kenapa? Oh....harus bertanya kepada siapa? Harus kucurahkan kepada siapa? Aku tak cukup berani menumpahkan isi hatiku pada seorang teman dekat...atau pada ayahku sekalipun aku menceritakan kisah atas nama temanku. Haruskah aku berkutat dengan diary....lagi? Sudah lama tak kulakukan itu, menurutku itu kekanak-kanakan sekali...semakin sesak dada ini.

Benarkah aku mulai merindukan tatap matanya?
Dear, Diary....

###############################################################################

Namaku Galuh Sigit Setiawan, biasa dipanggil Sigit oleh teman-temanku. Aku sudah lama bekerja di kantor ini, semenjak kuliah aku mulai magang di kantor ini, jadilah saat aku lulus kuliah, aku mendapatkan kepercayaan untuk mengelola sebuah divisi di kantor ini. Aku syukuri keberuntunganku ini.

"Hei...ke ruang rapat....segera...", kata Bagus tiba-tiba. "Kata staf personalia ada pegawai baru", lanjutnya "Trus...", sahutku. "Perempuan....", lanjutnya berapi-api. "Biasa aja lah Gus", timpalku kalem. "Tumben kan?...seribu satu...", terangnya lagi. "Woi...nyadar...", sambil kulempar buku yang kebetulan ada di atas mejaku, spontan membuat dia kaget dan reflek menangkapnya. "Sadis kau....", protesnya. Aku segera berjalan mendahuluinya ke ruang rapat.

"Namaku Rahmi, saya pegawai baru bagian HRD", kata pegawai baru itu di depan semua peserta rapat. Deg....tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Aku merasa sangat-sangat mengenal wajahnya, benarkah itu dia? "Ssst...", tiba-tiba Bagus menyenggol bahuku dengan keras. Aku segera mengalihkan tatapan mataku dari pegawai baru itu.

Bukan Rahmi namanya, aku masih ingat dengan segenap hatiku, namanya bukan Rahmi, tapi Rina, mengapa wajahnya begitu mirip? Apakah dia Rina yang mengaku sebagai Rahmi? Atau nama sebenarnya Rahmi, hanya saja dia mengenalkan padaku sebagai Rina? Kenapa? Apa alasannya? Tiba-tiba saja masa laluku berkelebatan kesana-kemari. Masa lalu yang mulai sanggup aku kubur dalam-dalam, kini tiba-tiba saja ada di depan mata, di kantor ini, satu kantor denganku.

"Heh......", tiba-tiba saja Bagus memukul keras bahuku. "Cie...mulai melamun...awas sebentar lagi up-date status galau" sambungnya dengan mimik setengah serius. "Cerita dong....gosip-gosip antar lelaki...100 persen dijamin kerahasiaannya, tidak akan tembus ke media massa ataupun intel rahasia...", cerocosnya. "Kerja Bro....", coba tak menghiraukannya, kembali mengetikkan sesuatu ke laptop di depanku.

Tiap hari Bagus mulai mengintimidasi, sementara aku masih kebingungan dengan fakta di depan mata dan kenangan-kenangan masa lalu. Beberapa kali mencuri-curi untuk mengamat-amati wajahnya. Meyakinkan apakah orang yang kini sekantor denganku adalah orang yang sama yang dulu aku kenal? Tapi wajahnya kenapa begitu sinis terhadapku? Tidakkah dia mengenaliku? Atau kini dia tak mau lagi mengenaliku. "Anggap saja aku adikmu Mas, itu lebih nyaman buatku, atau jika terlalu sakit bagimu, anggap saja kita tak pernah bertemu", tiba-tiba kata terakhir Rina terngiang-ngiang di telingaku.

Semakin hari pikiranku mulai berputar-putar tentang itu-itu saja. "Kau ingin mendengar ceritaku?", tantangku pada Bagus. "Eeaaa mulai curhat nih....tenang bro bisa dipercaya", sambil menepuk-nepuk dadanya. "Sebenarnya males, tapi biar kamu nggak terus-terusan curiga dengan berbagai hipotesis-hipotesis gilamu itu!". "Ini baru mas bro yang ku kenal...", lanjutnya. "Syaratnya...traktir ya...", tantangku sambil mengangkat kedua alisku. "Waduh...kayak artis aja neh pake minta bayaran...". "Itu namanya negosiasi", sahutku.

Sembari makan siang di kantin, aku mulai bercerita tentang masa lalu yang tiba-tiba kembali muncul di kehidupanku. "Kenapa kamu ndak ngajak kenalan aja,...pura-pura belum kenal gitu kek...tanya kabar", kata Bagus mencoba menawarkan solusi yang nekat ala dirinya. "Kamu ndak ingat ya....apa kata-kata terakhirnya padaku? Dan aku perhatikan wajahnya nampak lebih judes sekarang, dan sepertinya dia sudah tidak mengenalku sama sekali.....sama sekali...!", jawabku sambil menekankan poin akhir kalimatku. "Wah gawat itu Git, sepertinya dia....eh...tuuh orangnya", tiba-tiba suara Bagus melirih karena tiba-tiba saja Rahmi atau Rina di depan pintu masuk kantin. Kami sama-sama terdiam, mencoba tenang dan segera menghabiskan makan siang. Suasananya sudah tidak lagi nyaman.

Pagi itu aku, begitu masuk ke ruang kerja, aku teringat ada map yang tertinggal di kendaraan. Aku segera berbalik, dan bergegas menuju tempat parkir. "Aww....!" tiba-tiba pintu yang akan kubuka, begitu saja menghantam bahuku dengan keras. "Maaf...", kata perempuan didepanku, terlihat terburu-buru. Sesaat aku merasakan kelembutan hatinya, tidak nampak judes seperti biasanya. Aku mencoba memberanikan diri untuk mulai berbicara, saat aku mengangkat tanganku mencoba mengingat-ingat sesuatu tentang dirinya, tiba-tiba saja dia menjauhkan dan memalingkan bahunya. Seketika raut wajahnya berubah, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dengan kata-kataku yang tertahan.

Beberapa hari ini, rasa penasaranku semakin memuncak.Aku mencoba saran Bagus untuk memulainya mengajak berbicara, tanpa tendensi...begitu sarannya, mencoba bijak. Tapi semakin aku berusaha mendekatinya, semakin ku melihat ekspresi wajahnya yang sangat tidak membuatku nyaman, dia semakin menghindar, dan menghindar. "Laki-laki tak mengenal putus asa Git....", celoteh Bagus tiba-tiba, mencoba menyemangati.

Hari ini semuanya jelas, semuanya terang sudah. Aku menarik nafas panjang, entah merasa lega atau merasa kecewa dengan kebenaran yang aku terima. Aku menata hatiku saat berangkat ke kantor pagi berikutnya.

"Gimana Git?, tanya Bagus menyambut kedatanganku di kantor. "Aku salah....", jawabku. "Apanya?", tanya Bagus penasaran. "Beberapa hari lalu aku mencoba menghubungi salah seorang teman lamaku yang aku ingat adiknya satu fakultas dengan Rina. Lalu aku menghubunginya, kujelaskan alasanku lalu aku mulai bertanya tentang Rina", aku berhenti sejenak menarik nafas sedalam-dalamnya, dan kali ini Bagus terlihat lebih tenang mendengarkan daripada biasanya. "Dia menjelaskan bahwa Rina sudah menikah saat kuliahnya memasuki semester ke 5, setelahnya dia mengambil cuti. Dia tak menyampaikan kabar itu padaku karena aku memang tak pernah mengungkapkan secara langsung perasaanku padanya. Dia hanya bingung, oleh sebab itu kata-kata terakhirnya hanya mengambang. Setelahnya aku tak pernah bertemu lagi dengannya". Aku terdiam, menunggu reaksi Bagus. "Kenapa dulu kau diam saja?", selidik Bagus. "Aku sendiri masih bingung dengan perasaanku juga Gus, saat itu aku juga sedang sibuk-sibuknya membuat laporan magang, dan belum terpikir untuk serius tentang hal itu. Aku merasa kehilangan setelah aku sadar bahwa dia tidak pernah ada lagi di sekitarku. Aku merasa dia menghilang begitu saja.", lanjutku, lalu kami sama-sama terdiam agak lama. "Aku merasa mendapat kesempatan kedua, begitu melihatnya lagi". lanjutku lagi, memecah keheningan.

"Bagaimana dengan Rahmi?", tanya Bagus tiba-tiba. "Ya...", aku terdiam lagi sejenak sambil mengusap kepalaku. "Dia adalah kakak Rina, usianya terpaut hanya 1,5 tahun dan wajahnya begitu mirip memang, begitu kata adik temanku", jawabku sambil menahan rasa bersalah terhadap Rahmi yang selama ini kusangka Rina. Bagus menepuk bahuku, kali ini tanpa mengatakan apa-apa, lantas dia pergi menuju ke ruangannya. Aku masih tertunduk di mejaku.

Siang itu, aku sengaja menunggu kedatangan Rahmi di kantin. Kulihat dia berjalan ke arah kantin, aku segera berdiri, menghampirinya. "Rahmi....", Rahmi melihat ke arahku sedikit terkejut. "Saya minta maaf", lanjutku, lalu aku pergi meninggalkannya dengan wajah penuh heran. Aku tak ingin berlama-lama di hadapannya, ataupun mendengar respon darinya. Sepertinya aku belum sanggup menerima kemarahannya yang bisa saja tertumpah saat itu karena ulahku selama ini. Hatiku masih terlalu lelah mencoba menerima kenyataan yang beberapa hari lalu kuterima. Aku lega sudah meminta maaf padanya, dan aku tidak perlu konfirmasi apakah dia menerima atau tidak maafku itu.


The End

Pohon Harapan Simbah


"Mbah badhe teng pundi?" (Mbah mau kemana?) tanyaku kepada seorang simbah kakung tetanggaku. "Arep nang omahe putuku" (Mau ke rumah cucuku), jawabnya. Rumahnya cucunya itu tepat berada di depan rumahku, aku berjalan beriringan dengan simbah itu, Waktu itu aku baru saja pulang dari belanja sayur. "Simbah yuswone pinten?" (Simbah usianya berapa?) tanyaku lagi, "Pokoke wis akeh ra ngerti piro" (pokoknya sudah banyak, tidak tahu berapa), jawabya sambil berjalan terbungkuk-bungkuk. "Lahir tahun pinten to mbah?" (Lahir tahun berapa to mbah?) tanyaku lagi penasaran karena aku lihat simbah ini masih rajin beraktifitas ke kebun di belakang rumahku, merasa heran saja. "Pokoke aku jaman Jepang kae wis sekolah" (Pokoknya saya jaman Jepang dulu sudah sekolah), "Teng pundi mbah?" (Dimana mbah?), lanjutku. "Yo ning sekolah opo kae....." (Ya di sekolah apa itu....), tak melanjutkan jawabannya, pandangannya tertunduk mengamati jalan di depannya. "Pareng mbah kulo lurus nggih, atos2 mlampahe mbah...." (Permisi mbah, saya jalan lurus ya, hati-hati ya mbah).  "Iyo Nduk" (Iya Nak), jawabnya sambil terus memperhatikan jalan di depannya yang berbatu dan agak menurun.

Aku belum lama menjadi tetangga simbah kakung itu karena aku baru tinggal di lingkungan itu belum genap setahun. Rumahnya sebenarnya tidak begitu jauh dari rumahku, hanya saja aku belum pernah mengunjunginya. Setiap pagi aku tak pernah absen melihat simbah berangkat ke kebun, dan kadang saat simbah pulang siang harinya aku juga mengetahuinya. Badannya sudah mulai bungkuk, tapi tak pernah menghalanginya untuk berjalan mendaki menuju kebunnya sambil membawa sabit, dan pulangnya kadang membawa rumput, kayu, atau sayur-mayur.

"Mboten pegel-pegel mbah?" (Tidak capek mabh badannya?) tanyaku suatu hari saat melihat simbah pulang dari kebun sambil membawa banyak sekali bawaan. "Ora nduk, wis kulino, mengko lek neng omah wae awakke embah malah loro kabeh..." (Tidak Nak, sudah terbiasa, nanti kalau di rumah saja badan embah malah sakit semua), jawabnya.  "Monggo pinarak mbah...." (silahkan mampir mbah), tawarku kepada simbah. "Suwun bu...." (Terimakasih bu...),  kali ini simbah memanggil saya dengan bu, agak heran juga. Dalam hati aku mendoakan simbah semoga dikaruniakan kesehatan agar simbah bisa melakukan aktifitas kesukaannya yaitu pergi ke kebun.

Sore hari saat aku mengambili jemuran di samping rumah, tidak sengaja aku  melihat sosok simbah berjalan ke arah kebun. "Lho mbah tumben sore-sore badhe tindak pundi?" (Lho mbah, tumben sore-sore mau pergi kemana?) tanyaku. "Teng kebon bu...." (Ke kebun bu...), jawabnya agak sedikit berteriak. "Kok sonten to mbah?" (Kok sore mbah?) tanyaku lagi. "Ajenge nandur niki lho bu" (Mau menanam ini lho bu), kata simbah sambil menunjukkan benih mungil yang ada di genggaman tangan kirinya. kali ini simbah berbahasa jawa kromo. Benih itu kira-kira masih berukuran 10cm. "Uwit nopo niku mbah?" (Pohon apa itu mbah?). "Kemiri bu", jawabnya lagi. "Lho lak tasih dangu mbah panene wong tasih alit ngaten" (Lho nanti kan masih lama mbah panennya, kan masih kecil gitu), lanjutku penasaran. "Inggih bu kersane damel anak putu" (Iya bu biar untuk anak cucu). "O...ngaten" (O....begitu), gumamku. Simbah melanjutkan langkahnya. "Atos-atos nggih mbah......" (Hati-hati ya mbah.....), teriakku hampir lupa menyampaikan yang satu itu.

Begitu masuk rumah sembari  merapikan cucianku yang sudah kering, jawaban simbah masih terngiang di telinga dan kepalaku. Bagiku simbah sangat bijaksana sekali, di usianya yang tua simbah masih peduli dengan anak dan cucunya dengan menanam benih pohon kemiri yang entah berapa puluh tahun lagi akan panen, itu pun kalau tumbuh dengan subur, bagaimana kalau kemudian benih itu dimakan kambing yang digembalakan, atau begitu saja tercabut oleh kanak-kanak yang sedang bermain di kebun? Oh...berliku sekali perjalanan bibit kemirimu mbah....terbersit rasa ngeri juga jika itu terjadi. Membayangkan perasaan simbah yang hancur berkeping-keping jika pohon harapannya tidak tumbuh sesuai harapan si mbah.

Di saat yang lain sibuk mencari penghargaan diri melalui harta dan jabatan, disaat kata "peduli" berubah hanya sekedar fiksi, saat semua dunia diukur dengan materi, simbah yang kini semakin bungkuk itu tetap menumbuhkan kepeduliannya melalui bibit pohon kemiri. Ah...simbah telah menyindirku habis-habisan rupanya. Dengan usia tuanya, dengan susah payahnya berjalan, dengan semangatnya, semuanya. Simbah lebih kaya segala sesuatunya dari pada aku yang jauh lebih muda dari simbah.

Aku tidak melihat simbah beberapa hari ini, aku penasaran dengan pohon kemiri simbah, sudah mulai tinggikah, sudah mulai banyak daunnya kah? semakin subur atau mengering?

"Simbah sakit. Opname di rumah sakit...sudah satu minggu, sesak nafas, sempat kritis". Deg...sesaat terasa sesak di dadaku mendengar jawaban tetanggaku yang juga masih cucu simbah saat aku menanyakan kabar simbah. Aku berniat menjenguk simbah di rumah sakit, tapi belum juga aku punya waktu untuk kesana, huffft....keburu meninggal nanti simbah...Astagfirullahalazziim.....kata itu tiba-tiba muncul begitu saja di benakku. Ok besok harus kesana janjiku dalam hati. Sorenya aku mendapat kabar jika simbah sudah pulang. Ah...leganya berarti simbah sudah sehat lagi.

"Sakjane dereng saras bu, simbah mekso, sampun mboten betah...selak pingin tilik kebon niku lho bu" (Sebenarnya belum sembuh betul bu, simbah memaksa, sudah tidak betah...ingin segera menengok kebun itu lho bu). Kata salah sorang anak perempuan simbah menjelaskan kenapa simbah tidak mau dirawat di Rumah Sakit sampai benar-benar sembuh. Simbah hanya terbatuk-batuk mendengar obrolan kami. "Nggih ngoten niku embah, di ken istirahat teng griyo mboten kenging...terose awake pegel sedoyo, niki namung kulo paringi wedang jahe mben dinten kalih obat saking rumah sakit" (Ya begitu embah, diminta istirahat di rumah tidak bisa...katanya badannya pegal semua, sekarang ini cuma saya kasih minuman jahe setiap hari dan obat dari Rumah Sakit). Lanjutnya lagi. Setelah lama ngobrol dan sedikit "menasehati" simbah agar lebih banyak beristirahat, aku berpamitan pulang pada simbah dan putrinya. Pulang sambil membawa banyak hal dalam pikiranku.

Simbah menyindirku lagi. Simbah badannya sakit semua jika lama tidak ke kebun, simbah yang sakit memaksakan dirinya untuk tetap menengok kebun kesayangannya. Simbah yang semakin tua masih menebar harapannya untuk 1000 tahun lagi. Aku, tidak bisa lagi menyombongkan kemudaanku di depan simbah. Aku lebih banyak mengeluh, tentang ini tentang itu, masih berkutat dengan penilaian diri di depan orang lain. Boro-boro memikirkan orang lain, peduli dengan yang lain. Aku masih suka sibuk dengan diriku sendiri, bahkan sikut sana-sini demi merasa "sedikit lebih baik" dari yang lain. Apalagi memikirkan warisan untuk anak-cucu....jauh dari pikiranku simbah.

Kupanjatkan doa untuk simbah, semoga simbah sehat dan panjang umur, bahagia hingga nanti di akhir hidupnya. Simbah yang tidak pernah minta apa-apa, hanya minta diijinkan mengunjungi kebunnya setiap hari demi memastikan bibit pohon harapannya tumbuh dengan sempurna yang akan simbah persembahkan untuk anak cucunya kelak.