Kamis, 18 April 2013

Pengalaman mbak Ara Belajar Membaca

Bismillahirahmaanirrahiim
mbak Ara mau berangkat sekolah PAUD
ini juga pas mau berangkat










Mbak Ara mulai saya masukkan sekolah saat usia 2 tahunan
yaitu di PAUD PKK dekat rumah saya. Alasan utamanya adalah karena saya mulai bekerja, jadi daripada mbak Ara bermain di rumah saja bersama budhe, ART kami (asisten rumah tangga) lebih baik mbak Ara bermain di PAUD dan mendapatkan stimulus yang lebih banyak. Seminggu masuk 3 kali, dari jam 8 sampai jam 10 tapi kata budhenya bilang kalau mbak Ara lebih banyak bermain sendiri selama kegiatan, jika memasuki jam 9, mbak Ara selalu tidur sampai jam pulang, jadi bangun-bangun sudah di rumah he3... Selama masa ini saya hanya mengajaknya bermain atau bernyanyi sambil memperlihatkan gambar yang saya tempel-tempel di tembok, entah diperhatikan atau tidak.

Usia hampir memasuki 3 tahun, bersamaan tahun ajaran baru mbak Ara saya daftarkan ke Playgroup yang jam sekolahnya mulai jam 7 sampai jam 10, seminggu 3 kali juga. Disana sudah mulai diajarkan huruf-huruf dan angka-angka, menulisnya juga, tapi lebih banyak membuat prakarya, jadi masih banyak porsi bermainnya. Di rumah masih belum saya ajarkan menulis, kadang saya kasih lembar yang menghubungkan titik-titik, itupun masih sering corat-coret. Soal membaca tetap saya kenalkan sambil lalu, artinya tidak ada jam khusus untuk belajar. Masih menggunakan media gambar-gambar yang saya tempel di tembok, gambarnya tiap minggu saya tambah biar semakin banyak macam stimulus yang mbak Ara terima.

Memasuki TK A bu guru sudah memberi banyak PR mengenal huruf dan menulis, sudah tidak menebali lagi melainkan mencontoh. Stimulus yang saya berikan terkait membaca masih tetap, sambil melihat gambar di tembok, ditambah berbagai macam gambar binatang yang ada tulisan di bawahnya, misal gambar sapi, dibawahnya ada tulisan sapi, lalu saya minta untuk menyebutkan huruf apa saja yang ada disitu. Saya sempat tertarik juga dengan program software anak cerdas, dan suami saya sempat membelikannya dan diajarkan kepada mbak Ara. Mengasyikkan sih sebenarnya, cuma jika terlalu lama di depan komputer rasa-rasanya saya kurang sreg. Selama di depan komputer, mbak Ara tetap kami dampingi untuk membaca instruksi atau memberi penjelasan jika dia tidak mengerti.

Terkadang saya mengajaknya bermain mencari huruf, misalnya huruf S, lalu mbak Ara menunjuk gambar yang mengandung huruf S, misalnya pada gambar Sapi, atau huruf K pada gambar Kambing. Saya juga mengajak mbak Ara untuk menggunting alfabet, dan menyusunnya kembali secara acak, lalu ditempel di tembok, kemudian kita menyanyi lagu A-B-C sambil menunjuk huruf-huruf yang sudah diacak tadi. Mbak Ara terlihat senang karena beberapa kali mengulangnya sendiri dan kadang meminta tolong karena merasa tidak menemukan huruf yang dimaksud, "mi...huruf K nya hilang", lalu saya temani untuk mencari, "nah ketemu kan", "oiya hurufnya ndak ilang" begitu jawabnya.

Memasuki TK A semester kedua, saya memutuskan keluar dari pekerjaan sehingga sejak saat itu waktu saya kembali full untuk mbak Ara. Saya memutuskan untuk fokus mengajari mbak Ara terutama dalam hal membaca. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan metode a-ba-ca-ba-ca yang saya kenal melalui tempat kerja saya. Alhamdulillah saat seusianya, mbak Ara sudah sangat mudah sekali untuk diajak bekerjasama, sudah bisa saya ajak duduk bersama, mengamati tulisan yang ada di buku, dan pelan-pelan mulai membaca mulai a-ba, a-a, ba-a, dan seterusnya. Yang saya fokuskan saat itu mengajari mbak Ara membaca dulu, sedangkan menulisnya nanti dulu menunggu giliran. Saat itu hampir setiap hari saya berikan stimulus a-ba-ca itu kadang sehari lebih dari sekali. Jika mbak Ara capek, kadang saya baca, mbak Ara mendengarkan, atau saya bisarkan mbak Ara sekedar membolak-balik bukunya dan hanya mengamati gambarnya saja.

Belum sampai halaman dalam buku itu habis, kira-kira masih setengahnya, dan dalam tempo kurang dari 6 bulan Alhamdulillah mbak Ara sudah bisa membaca. Saat itu kira-kira menjelang kenaikan kelas ke TK B. Karena sudah bosan dengan buku a-ba-ca, akhirnya mbak Ara beralih membaca buku yang lain. Yang lebih sering, mbak Ara membaca petunjuk di jalan, atau tulisan di bungkus-bungkus produk dan semacamnya. Ketika memasuki TK B, Alhamdulillah sudah siap membaca, tinggal meningkatkan kemampuannya saja misalnya membaca yang konsonannya menumpuk seperti kata "mainannya", "tanggung-jawab", dan semacamnya.

Alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan yang berarti saat mengajari mbak Ara membaca. Saya juga merasa setelah tidak bekerja jadi lebih rajin memberikan stimulus bacaan kepada mbak Ara karena otomatis perhatian saya terfokus pada tumbuh kembang mbak Ara. Hingga saat ini saya masih terus mengupayakan agar mbak Ara tetap suka membaca buku, karena menurut penilaian saya dan suami, mbak Ara kurang begitu tertarik dengan kegiatan membaca yang harus "duduk manis", sukanya menari, menyanyi, atau jika menemukan buku bagus lebih suka dibacakan, dan suatu hari dia akan menceritakan kembali ke orang lain entah teman, guru, atau saudaranya. Jika di sekolah dibacakan cerita oleh gurunya, maka sampai di rumah biasanya dia menceritakan kepada kami. Tiap malam mbak Ara juga sering minta untuk dibacakan buku, alasannya tidak bisa tidur jika tidak dibacakan cerita. Anak kecil memang suka didongengin ya...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar