Sabtu, 26 Januari 2013

SELALU DAWAI ....

"Ingin menjadi apa kau kelak nak?" "Presiden, aku ingin dihormati semua orang di negri ini, lihatnya tiap kali presiden melewati jalan ini, semua warga keluar rumah, melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum, sepertinya semua warga menyukainya, mengelukannya, dan mendoakannya semoga panjang umur". "Tidak, aku ingin menjadi dokter saja, karena aku bisa menyembuhkan setiap orang yang sakit, jika ada tetangga dan saudara yang panas menggigil, tak perlu, tak perlu khawatir, aku hanya perlu memberi suntikan di bagian tubuhnya, dan pasti kembali ceria". "Jika aku besar nanti, mungkin juga aku ingin menjadi astronot, menjelajahi luar angkasa tanpa batas, menjejakkan kakiku di sebuah planet disana, mengukirkan namaku, duniapun akan mengagumiku, seperti mereka mengagumi Neil".

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQJWItQfo98bwNhHe4L2Yyp
CQEd0i91XcBpXn6FnoYK8MhNc7uQF6kvwRA5Sw
Aku yakin, kau pasti mampu meraih apa yang kau mau, menjadi apa yang kau idam-idamkan. Cita-citamu sungguh baik, hebat, dan penuh semangat. Harapanmu juga sangat manusiawi sekali, kau ingin disayangi oleh semua orang, seperti halnya saat kau masih kecil, atau saat kau ditimang bundamu, kau begitu disayangi banyak orang, semua memanggilmu manis, semua suka memeluk dan menggendongmu, membelai-belai rambutmu, dengan nyanyian penuh kasih sayang. Kau juga ingin bisa membantu orang lain, meringankan penderitaan orang lain, seperti yang bundamu lakukan terhadapmu. Ketika kau susah tidur karena gatal gigitan nyamuk di punggungmu, bunda senantiasa mengelusmu hingga engkau terlelap, saat jemari kecilmu tertimpa buku yang terjatuh dari meja, bundamu dengan segera meniup dan mencium tanganmu sambil berkata " Cup sayangkau, kau pasti baik-baik saja, ada bunda di sini". Dan kau, tentu saja menginginkan kejayaan, pengakuan, bahwa kaulah yang terhebat, kaulah yang terbaik, kenang-kenanglah selamanya. Memang demikian, manusiawi. Tak ada yang salah dengan semua itu.

Aku bahagia, mendengar kau begitu semangat dengan masa depanmu, menggambarkan semua keindahan-keindahan yang akan engkau raih kelak. Semua tampak nyata di depan mata. Aku tak hendak mengecilkanmu, juga bukan hendak membuatmu ragu-ragu. Tak ada itu.

Sesungguhnya, jika aku boleh berharap padamu, jika aku bisa meletakkannya sedikit saja di pundakmu, aku hanya kau ingin menjadi dirimu sendiri. Ya...sepenuhnya dirimu, dirimu yang aku lihat sekarang ini, jujur tanpa terbebani apapun. Itu lebih dari cukup bagiku. Sesungguhnya, itulah hal tersulit yang aku rasa untuk diraih. Mungkin kau sulit menggambarkannya saat ini. " Menjadi diri sendiri? Bukankah akan selalu begitu? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi orang lain? Jika aku terlahir sebagai Dawai, bukankah aku tua dan mati sebagai Dawai? Yah...kecuali jika aku mengganti namaku dengan yang lain mungkin".

Bukan itu, kau bisa saja menjadi Dawai yang bukan Dawai lagi. Kelak banyak topeng-topeng yang singgah di wajahmu, di seragammu, di nama depan atau belakangmu, atau yang lain-lain yang memaksamu meninggalkan identitas Dawai mu. Kemudian kau melihat, berbicara, berperilaku bukan atas nama hati nuranimu, tapi atas nama gelarmu, atas nama jabatanmu, atas nama kekuasaanmu, atau apalah....yang telah tanpa sadar menjauhkanmu dari hakekat dirimu, memadamkan suara hatimu. Menjadi diri sendiri amatlah sulit, lontarkan saja tanya kepada orang di sekitarmu "Siapakah kamu?" dan lontarkan juga tanya itu pada dirimu "Siapakah aku?"

Kelak, jika engkau dewasa nanti, aku ingin tetap melihat Dawai, memeluk Dawai, membelai Dawai, dan bukan melihat seorang presiden, memeluk seorang dokter, atau membelai seorang astronot. Aku hanya ingin Dawai-ku yang tak ragu mencelotehkan kejujuran, menyanyikan kedamaian tanpa imbalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar