Senin, 28 Januari 2013

SEDANG TIDAK ( terinspirasi)


Ada-ada saja, aku merasa lucu saja, dari tadi di depan laptop, kedinginan, sentrap-sentrup karena hidung sebelah buntu, bersanding dengan heater listrik, mlongo. Sesekali mengusap hidung, menari nafas panjang berharap buntunya bisa berkurang, mlongo. Tengok kanan kiri, ada roti, dan minuman, mau bersin eh...tidak jadi, hidung terasa geli, masih tetep mlongo. Sekarang mencoba menutup mulut rapat-rapat biar tidak lagi mlongo....tapi otak tetep kosong (otaknya yang mlongo).

Ah Chairil (Anwar).....setiap kali membaca puisi-puisimu...terpaku. aku memang tidak sepuitis engkau, tidak selihai engkau menuangkan kenyataan dalam rangkaian kata yang menurutku lebih dari sekedar indah. Krawang Bekasi, dulu aku pernah membacanya saat aku SD, waktu itu lomba Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni), puisi itu yang terpilih, dan aku yang terpilih untuk membacanya. Waktu itu aku hanya sekedar membaca, tidak memaknainya. yah wajarlah, waktu itu aku masih dalam tahap operasional kongkrit. 

Guruku mengajariku cara membaca puisi. Melatih mimik mukaku, mengatur kapan aku harus membaca dengan berteriak lantang, atau lemah lembut seperti hendak menangis. Kapan aku harus berdiri tegak, mengepalkan tangan, atau membungkuk meratap. Sulit kerasakan waktu itu, mungkin karena aku tak paham maksud isi puisinya. Hari ini aku membaca tentangmu saja, karena sedang tidak ada inspirasi.

Oh Gie, membaca catatan harianmu membuat aku enggan berhenti, tapi harus berhenti memang, karena banyak yang harus aku kerjakan (do the chores, biasa emak-emak). Diarimu mengingatkanku semasa kuliah dulu, demo-demo. Jika kamu berdemo di masa pemerintahan Soekarno, maka aku demo di zamannya Megawati (putrinya). Waktu itu demo tentang penjualan aset-aset negara, tentang harga minyak yang semakin tinggi, anti AS, apalagi ya....lupa. Ya begini ini kalo demo gak pernah niat, sampe agendanya apa aja nggak tau. Maklum waktu itu, ikutan demo selalu karena nggak sengaja, pulang kuliah masih siang, ada kakak angkatan nyamperin, ngajakin ikutan turun ke jalan (waktu itu gabung dengan KAMMI), oke setuju insyaAllah aman.

Besoknya ada kesempatan, ikut lagi, dan lagi. Awalnya berat, panas, bayangin aja demo di siang hari dengan cuaca khas Surabaya, wow, beruntung jika ada pohon. Tapi lama-lama ketagihan juga, ketagihan teriak-teriaknya, lumayan katarsis. Memaki-maki pemerintahan, semua kemarahan rasanya plong (termasuk rasa marah pada teman atau dosen yang "rumit" ikutan plong juga). Setelah kesekian kali akhirnya kapok, gara-garanya waktu itu pengen banget ikut, cuma karena ada sesuatu jadi terpaksa ndak ikut, sorenya dapat kabar dari kakak angkatan kalau demo siang itu rusuh ada provokator. Beberapa aktivis terluka karena pentungan dan dibawa polisi. Situasinya semrawut, kacau. Setelah itu demo mulai surut.

Gie, salut untukmu.
Jika aku berdemo hanya ingin katarsis, engkau berjuang sekuat tenaga, ada cita-cita yang menyertainya. Usiamu yang muda tak menghalangi kedewasaanmu.

Chairil dan Gie, kalian sama-sama mati muda. namun kisahmu tetap hidup hingga hari ini.

Yah beginilah malam ini, akhirnya mengingat-ingat, tepatnya tiba-tiba teringat tentang keduanya, karena sedang tidak ada inspirasi. Membaca-baca hasil karyanya, berharap ada bola lampu yang muncul di atas kepalaku, dengan sekali "klik" tiba-tiba muncul berparagraf-paragraf kata-kata puitis ("Hmmmm....mimpi kali ye" tiba-tiba Kuya nyelonong). Ayo Kuya hipnotis dong " Jika kamu bangun, kamu merasa menjadi Chairil Anwar", eh Pak Tarno muncul, "Jadi apa hayoo..." prok...prok...prok.

Waktunya berhenti sejenak, merenung di atas kasur sambil tidur, barangkali inspirasi datang lewat mimpi. Sudah malam sekali rupanya, aku harus menuruti nasehat dokter untuk tidur 8 jam sehari, biar badan kuat, pikiran sehat, dan hidup semangat. Tunggu sebentar lagi, aku harus menambahkan paragaraf yang ini, biar kelihatan lebih banyak daripada paragraf sebelumnya. Kata penutup mungkin, dan ucapan terimakasih. Terimakasih kepada kedua tokoh muda sepanjang masa, (karena engkau meninggal di saat muda, maka mudalah yang ku kenang) kalian begitu banyak menginspirasiku untuk menulis, meski kalian tidak mengetahuinya. Menulis membuat kalian panjang umur, mungkin hingga 1000 tahun lagi. Terakhir doa "Bismikallahumma ahya wa bismika amut", amin Ya Robballalamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar