Jumat, 08 Februari 2013

Surat Kepada Masa Tuaku



Dear Nduk

Bagaimana kabarmu hari ini Nduk? Aku harap kamu dan keluargamu sehat, dan selalu dalam perlindungan Allah SWT. Akupun demikian, saat menulis surat ini, Alhamdulillah jiwa ragaku sehat, cuma ada sedikit ganjalan, gigiku linu Nduk, cenut-cenut. Tapi demi dirimu, ndak papa Nduk nulis surat sambil cenut-cenut. Mungkin kondisi seperti ini, nulisnya jadi lebih menjiwai, iyo to Nduk? Lihat saja Chairil Anwar, puisinya begitu abadi sampai saat ini, juga Gie, begitu heroik buku hariannya karena mereka sama-sama sakit saat menulis. Tapi sakitnya bukan sakit gigi sih Nduk. Sudahlah kok malah nyritain yang lain.

Oiya kamu heran nggak Nduk, kenapa pembukaan suratku pakai pembuka "Dear Nduk"? Karena aku baru saja diajari nulis surat sama guru bahasa Inggris di Newcastle, pembukannya pakai "dear" katanya, nggak tau maksudnya apa, dan kenapa selalu itu. Kalau "Nduk", itu karena aku tetep suka memanggil kamu Nduk, meskipun usiamu tidak lagi seperti genduk-genduk itu, tapi aku lebih suka memanggilmu demikikan, terasa dekat di hati. Selain itu bagiku, kamu adalah genduk kecilku, setua apapun dirimu kamu tetap gendukku yang selalu ingin aku manja-manja, dan aku sayang-sayang.

Gimana Nduk keadaanmu? Di usiamu yang sekarang ini, kira-kira apa saja cita-citamu yang sudah tercapai? Aku masih ingat beberapa Nduk, naik haji, sekolah lagi, membuka praktek konseling bersama suamimu, juga membuatkan adik untuk anak semata wayangmu. Jika sudah tercapai, Alhamdulillah aku turut senang dan bersyukur Nduk, karena doamu telah diijabahi Allah SWT, semoga dengan terkabulnya doamu, engkau lebih mendekat lagi padaNya. Bukti atas segala rasa syukurmu. Tapi jika belum teruslah berusaha dan berdoa, semoga dari ribuan kali doa yang engkau panjatkan akan Allah kabulkan. Jangan pernah berkecil hati Nduk, bukankah Allah senantiasa menyayangi hambanya yang giat berusaha? Bukankan Allah juga menyayangi hambanya yang menyayangiNya?

Jika sampai saat ini engkau belum dipanggil berhaji, jangan bersedih Nduk. Mungkin Allah memberikan waktu untukmu agar bisa lebih mempersiapkan diri, agar lebih patut nanti. Tanyakan lagi pada hatimu, sudah patutkah kira-kira menerima undangan dari Allah, khalik semesta alam ini. Undangan yang tentu saja paling mulia di dunia ini, jauh dari sekedar undangan makan bersama Pak Rektor dan keluarganya, yang mana engkau mempersiapakan sedemikian rupa, mulai baju, sepatu, tas yang kau rasa harus sepadan agar tak mempermalukan dirimu dan keluargamu. Apalagi ber haji Nduk, tak elok jika kamu mempermalukan dirimu di hadapan Allah SWT dengan ilmu agamamu yang seadanya, compang-camping. Tetap semangat ya Nduk, "manjadda wa jadda".

Soal sekolahmu, jangan pernah risau Nduk, andai hingga saat ini kamu masih dengan titelmu S.Psi jangan pernah merasa rendah diri. Ilmu bisa didapat dimana saja, tidak hanya dibangku kuliah, dimana saja. Ilmu tersebar luas di dunia ini, tercecer dimana saja bagi siapapun yang dengan jeli mau memungutinya. Dan aku rasa lebih banyak macamnya daripada yang ada di bangku kuliah. Kamu bisa belajar tentang kesabaran dari seorang penyapu jalanan, tiap kali angin berhembus menerbangkan sampah dan dedaunan yang belum sempat dimasukkan ke keranjang sampah, dia harus melakukannya lagi, menyapu lagi, dan lagi hingga sampah tak tersisa lagi. Kamu juga bisa belajar tentang menjaga sebuah harapan dari seorang penjual es keliling, meski hari mendung, dia tetap mengayuh sepeda menjajakan esnya, berharap ada seorang anak kecil ingin menikmatinya meski pada akhirnya sang ibu melarang, khawatir anaknya terkena pilek nanti. Meski kecewa karena si anak tak jadi membeli esnya, tukang es itu tetap mengayuh sepedanya, berharap bertemu dengan pembeli yang lain lagi. Pangkal dari ilmu adalah kebijaksanaan Nduk, buat apa kamu mengumpulkan banyak singkatan di belakang namamu jika itu tak mengubah pola berfikirmu.

Soal rencana praktekmu, jalani saja Nduk. Dulu sebelum kamu bercita-cita buka praktek dengan suamimu, Alhamdulillah sudah ada klien yang datang, ingat ndak? Waktu itu orangtua dari salah seorang mahasiswi suamimu datang ke rumah, ya mencurahkan hatinya tentang kondisi anak, bertanya tentang solusinya dan sebagainya dan sebagainya. Setelah ngobrol ngalor ngidul, pulang-pulang mereka ngasih sekarung beras, setandan pisang dan lain-lainnya. He3...lucu ya nduk, seperti kisah dokter yang praktek di pedalaman, ongkosnya sembako. Tapi yang ini kasusnya karena suamimu ndak mau nerima amplop dari mereka alasannya suamimu hanya ingin membantu, ikhlas titik. Alhamdulillah. Menolong orang ternyata membuka banyak pintu rejeki.

Adiknya Ara gimana Nduk? Sudah besar, masih kecil, satu, dua, atau malah belum punya adik sampai saat ini? Kalau sudah ada, Alhamdulillah, amanah harus dijaga dengan benar, tabungan untuk di akhirat nanti. Menjaga anak jaman sekarang lebih susah ya Nduk? Ndak seperti jamanku kecil dulu, dibiarin aja sama bapak ibu, maen di sawah sama di kebon, tahu-tahu sudah besar, dan sudah ngerti. Tapi jaman sekarang aku ngak bisa mbayangin Nduk, semua sudah serba canggih, serba instan, serba akselerasi, banyak-banyak berdoa aja ya Nduk.

Sudah ya Gendukku, suratku sampai sini dulu. Kesimpulan dari pesanku yang panjang lebar itu intinya ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Dengan ikhlas semuanya jadi ringan, adem, ayem, tentrem di hati, semakin dekat dengan Illahi. Hati-hati ya Nduk.

With Best Wishes
Suara Hatimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar