Kamis, 01 Januari 2015

York di Musim Dingin

Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan kepada kami sekeluarga untuk berkunjung ke York di liburan kali ini. Ada apa sajakah di sana, berikut foto-foto beserta keterangannya. Semoga bisa memberikan sedikit gambaran tentang York City.
 
York Train Station
Foto di sebelah kiri ini adalah stasiun kereta api di York, tempat kami pertama menginjakkan kaki di kota ini. Begitu turun dari kereta, kami agak kebingungan mencari jalan keluar dari stasiun. Tidak terlihat ada tanda "exit" di sana. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti arus orang-orang berjalan yang menurut dugaan kami pastilah juga menuju keluar stasiun. Tapi pada akhirnya arus itu terpecah menjadi 2 yang kira-kira sama jumlahnya, satunya naik ke tangga atas, dan rombongan satunya lagi masih berjalan lurus.
Kami sempat bingung mau mengikuti rombongan yang mana, sampai akhirnya kami berhasil melihat pintu besar yang ternyata memang benar pintu keluar hehehe. Nah lalu yang rombongan naik tangga itu pada mau kemana ya? Jangan kemana-mana dulu, pertanyaan saya ini akan terjawab di akhir perjalanan kami. (Iklan banget yak...hihihi...).
 
Sebelah kiri itu City Walls dan tangganya
Begitu keluar dari stasiun, kami langsung disambut dengan pemandangan tembok besar yang disebut dengan City Walls. Oiya sebelum beranjak, suami sempat menelepon salah seorang kawan untuk memastikan ke arah manakah perjalanan kami selanjutnya agar kemudian kami bisa bertemu di suatu tempat, istilahnya janjian gitu lho. Beliau menyarankan agar kami menyusuri saja City Walls ke arah menjauhi sungi, dan akan bertemu di ujung tembok kemudian. Agak kurang ngeh sih sebenarnya, namun ternyata setelah kami mendekati tembok yang dimaksud, ternyata kita memang bisa menyusuri tembok itu karena memang ada jalan setapak di antara tembok besar itu. Sayangnya setelah kita naik tangga ke atas tembok itu, pintu besi di dalamnya ternyata terkunci. Usut punya usut, mungkin jalurnya ditutup karena dinginnya cuaca, agak berbahaya bagi pengunjung untuk dilewati, begitulah kawan menjelaskan saat kami bertemu kemudian. Jalan memang penuh es tipis pada waktu itu, dan agak licin saat berjalan jadi harus lebih hati-hati.
 
Cholera Burial Ground
Ya sudah, akhirnya kami hanya mengambil gambar saja di atas tembok itu. Beberapa turis lain yang kebetulan naik bersama kita pun tampak kecewa setelah mengetahui jalan di tembok itu terkunci. Waktu itu kita bersamaan dengan turis dari Cina dan semacam Itali atau Spanyol lah kalau di dengar dari bahasa yang mereka gunakan.
 
Di dekat area City Walls itu terdapat 2 area pemakaman, satunya makam penderita penyakit kolera pada tahun 1832. Sebenarnya ada ratusan orang (185 korban) yang dimakamkan di sana, namun hanya tersisa sedikit saja batu nisan yang ada. Satunya adalah semacam tugu peringatan atau monumen bagi para tentara yang meninggal pada perang dunia. Nama-nama mereka juga diabadikan di tembok berdekatan dengan monument. Masih tersisa rangkaian bunga poppy di sana, sepertinya sisa Remembrance Day beberapa bulan yang lalu.
 
Krakatoa Restaurant
Kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju ke tempat wisata selanjutnya. Saat kami melintas di sebuah jalan, kami melihat sebuah restoran dengan judul Krakatoa, lho itu kan nama salah satu gunung di Indonesia. Saya pun mendekat ke pintu restoran, di sana terdapat keterangan kalau restoran ini menyediakan menu makanan Indonesia seperti nasi goring, risoles, tahu isi, dan sebagainya. Tapi restoran ini juga menyediakan menu pork alias daging babi. Sempat berniat ingin makan di restoran tersebut siang atau sore harinya dengan menu vegetarian yang disediakan, tapi jam bukanya baru mulai jam 5 sore, akhirnya kamipun melupakan rencana itu.
 
Lokasi yang kami tuju berikutnya adalah Clifford Tower yang dibangun oleh William the Conqueror. Siapakah dia? Googling sendiri ya.....hehehe. Tower yang satu ini ternyata satu lokasi dengan York Castle Museum. Jadi istilahnya sekali dayung, 2 tempat wisata terlampaui hehehe.... Eits jangan salah berhubung dua-dua nya tidak gratis alias bayar maka kami pun memutuskan untuk berfoto-foto saja di sekitar area tower dan museum. Itu salah satu tips penghematan no 3, lha no 1 sama no 2 nya apa ya? Rahasia hihihi.....
 
Clifford Tower
Menurut rumor yang beredar di kalangan ibu-ibu, bapak-bapak, dan masyarakat sekitar, museum ini paling horror di Inggris. Konon siapa yang berfoto di dalam area museum akan muncul penampakan gadis cilik dengan pakaian zaman dulu juga ikutan nimbrung berfoto. Kalau penasaran coba aja lihat dokumentasinya di Youtube. Masalah ini sudah banyak dibahas. Alasan itulah yang membuat Ara bener-bener tidak mau mampir meski hanya sekedar untuk berfoto di area depan museum sekalipun.
 
Selesai mengambil beberapa gambar di area tower, kami menuju pusat kota. Pertama kali yang kami tuju adalah museum Jorvik. Yaitu museum yang berisi peninggalan-peninggalan jaman Viking yang ditemukan pada tahun 1976 dan dilakukan penggalian hingga tahun 1981. Merupakan salah satu museum yang sangat terkenal di kota York. Di dalamnya terdapat replika suasana tempat tinggal orang-orang Viking beserta peradabannya. Suasana museum dibuat gelap dan banyak patung-patung di dalamnya sehingga membuat saya agak sedikit merinding hehehe....
 
York Castle Museum
Kita bisa menikmati suasana pedesaan Viking dengan menikmati sebuah wahana semacam kereta yang berjalannya sangat pelan. Wahana itu juga dilengkapi dengan keterangan audio yang bisa kita tentukan bahasanya. Yang jelas belum ada audio berbahasa Indonesia hehehe... Yang membuat suasana semakin terasa jaman Viking adalah para kru yang berpakaian ala Viking. Mereka ramah dan mau kok diajakin foto-foto. Kalau ingin mengajak foto bersama, pas sewaktu nunggu antrian masuk itu. Sementara kalau mereka pas bekerja di dalam museumnya, kelihatan sibuk sekali, jadi sungkan kalau ingin mengajak foto, padahal inginnya punya koleksi foto dengan semua Viking (kalau bisa).
 
Keluar dari Jorvik Museum, kami bertiga kelaparan. Seorang teman menyarankan untuk menikmati nasi goreng di restoran Cina yang bernama Happy Valley di Goodramgate Street tidak jauh dari museum, hanya beda gang saja. Tapi lucunya, kami sempat nyasar juga meski sudah pakai alat bantu peta di Hp hehehe.... Setelah kecapekan nyasar sekitar 15 menitan nyari-nyari tuh restoran, Alhamdulillah ketemu juga rumah makan yang dimaksud dalam kondisi kami sudah lapar maksimal.
 
Bersama salah satu Viking di Jorvik Museum
 Pas mau masuk, lho...eh pintu kok tutup, ngintip di jendela kok juga sepi, tapi di kaca ada tulisannya "open". Akhirnya suami membuka pintu restoran, melongok ke dalam, barulah terlihat ada aktifitas masak-memasak di ruangan yang rupanya adalah dapur dari restoran itu. "Is it open?", tanya suami. "Yes, up stair please", jawab salah seorang tukang masaknya. Nah pas kita naik ke lantai atas itu baru terlihat suasananya ramaaaaaaiiiiii sekali. Hanya ada beberapa meja kosong, lainnya penuh. Beruntung kami langsung menemukan meja sehingga bisa langsung memesan nasi goreng King Prawn, dan nasi goreng Seafood. Hemmm....rasanya masyaAllah. Oiya berhubung restoran Halal agak sulit ditemukan jadi kita tetap harus hati-hati ya pesan makanannya. Jika tidak ada label halalnya lebih baik hindari ayam ataupun daging kambing dan sapi karena kita tidak tahu penyembelihannya. Lebih aman jika pesan yang seafood atau vegetarian. Demikian sekilas tips.
 
Puas makan, kami pun siap-siap kembali. Eh pas kami mau beranjak dari meja, ternyata sudah ada beberapa rombongan pengunjung yang berdiri menunggu meja kosong. MasyaAllah luar biasa laris manis restoran yang satu ini. Tak lupa kami mengambil gambar di depan restoran sebelum pergi.
 
Di depan restoran Happy Valley
Keluar dari restoran kami melihat atraksi jalanan yang judulnya "A man with a big ball". Orangnya (pemain atraksi) kocak banget. Kami melihat dari awal atraksi juggling bolanya sampai selesai. Atraksi andalannya adalah melakukan juggling dengan 3 bola sepak sambil menyeimbangkan diri di atas sebuah bola besar. Dia melakukannya tanpa alas kaki lho, nekat banget nggak sih? Padahal cuacanya dingiiiin banget. Begitu selesai, pemainnya ini mengeluhkan kakinya yang sakit saking dinginnya. Tak apalah, ini namanya perjuangan untuk mendapatkan uang, begitu katanya hehehe....
 
Beranjak dari sana, kami menuju ke sebuah taman yang mana di sana pas lagi ada Fun Fair, cuma ada satu wahana sih yaitu kuda-kudaan yang muter seperti di pasar malam. Ara semangat sekali ingin naik wahana itu. Sembari menunggu Ara, suami pun menunaikan shalat di sebuah kursi taman, Alhamdulillah aman. Tak lupa, setelahnya kami mampir sebentar ke Shamble street yang konon sangat terkenal itu. Terkenal karena saking tuanya jalan dan bangunan di sana, diperkirakan peninggalan abad akhir 14 dan awal 15, masyaAllah. Kalau soal menjaga sejarah dan peninggalan-peninggalan masa lampau, harus diakui bahwa Inggris memang jagonya. Kami pun tak lupa mengambil beberapa foto di sana.
 
The Shamble Street
Lanjut, kami ke Minster yang merupakan gereja katedral gothic yang terbesar di wilayah Eropa utara. Tapi lagi-lagi tidak gratis. Kami tetap mencoba masuk. Begitu di dalam, orang sudah mengular antri untuk membayar tiket masuk. Kamipun keluar dari antrian dan melihat-lihat area di dalam gereja yang dibatasi pita merah yang hanya boleh dilewati oleh mereka yang bertiket. Tentu saja area yang bisa kita nikmati tidak luas. Mereka yang membeli tiket ini adalah yang ingin mengikuti tur mengelilingi gereja dan menaiki towernya. Bagi kami, sudah cukuplah menengok barang sebentar. gerejanya sangat gelap, hanya ada nyala lilin-lilin kecil. Entah kenapa lampunya di dalam gereja kok tidak dinyalakan, supaya pengunjung penasaran kali ya, supaya mau beli tiket buat ikutan tur hehehe....
 
York Minster
Hari semakin sore, kamipun melanjutkan perjalanan ke Railway Museum. Museum yang isinya kereta api-kereta api jaman dulu banget sampai jaman dulu yang tidak terlalu banget. Berbagai macam bentuk dan ukuran kereta api ada di sana. Ara bertemu lagi dengan tokoh favoritnya, George Stephenson, seorang penemu mesin uap yang menggerakkan kereta api. Rupanya tokoh ini ada dimana-mana. Beberapa bulan lalu kami menemukan sosok Stephenson di museum yang ada di London. Kamipun menjelajahi kereta demi kereta, ambil gambar yang ini dan yang itu. Terakhir capek, kami duduk-duduk di dekat pintu masuk sampai diusir petugasnya karena museum akan tutup hehehe... Sebenarnya tidak diusir yang seperti gimana-gimana, cuma diberitahu melalui pengeras suara agar pengunjung segera meninggalkan museum. Kamipun berjalan keluar dengan langkah gontai, maklum sudah capek banget. Ara saja berkali-kali minta gendong abinya, kasihan.
 
 York Railway Museum
Kami memutuskan untuk langsung ke stasiun kereta api, meski sebenarnya jadwal kereta masih 2 jam lagi. Kami duduk-duduk di stasiun selama 2 jam di sana, lebih sih karena kereta terlambat datang 10 menit. Selamat tinggal York, semoga bisa berkunjung lagi, berharap bisa menikmati menu di Happy Valley kemudian hari, InsyaAllah.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
#Ayat hari ini
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) ayat 16-20:
 
16. Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.
17. Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
18. Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.
19. Ata seperti (orang yang ditimpa)hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.
20. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar