Kamis, 30 Oktober 2014

Liburan Pasti Berlalu


Tidak terasa sudah hari Kamis, sudah malam pula, berarti malam Jumat dong. Siang tadi ngobrol sama misua, kenapa kalai musim liburan seperti ini hari-hari rasanya cepat sekali berlalu. Senin mulai libur, perasaan belum melakukan apa-apa, eh tahu-tahu sudah hari Kamis, subhanallah.

Kegiatan liburan sekolah kali ini lebih banyak dihabiskan di rumah. Selain faktor cuaca yang sudah mulai dingin dan tidak lagi nyaman jika dinikmati untuk bermain-main di luar, juga kondisi misua yang kurang sehat, dan sedang ada banyak tugas kuliah. Semoga Allah memberikan kesembuhan dan kemudahan untukmu suamiku, amin.

Hari Sabtu, rutinitasnya seperti biasa, mengantar anak kursus dance di dekat rumah. Kursusnya sebenarnya tidak lama, hanya 30 menit saja, tetapi memang harus berangkat lebih awal karena harus "mark in" alias absen dulu, ganti kostum dance (biasanya sudah pakai kostum dari rumah, di sana tinggal ganti sepatunya saja), menunggu sebentar, lalu masuk kelas.

Sayang sekali orang tua atau yang mengantar tidak bisa melihat dance nya karena studionya tertutup, pihak yang mengantar harus menunggu di ruang tunggu. Hemmm biasanya saat seperti itulah yang membosankan bagi saya. Biasanya di saat menunggu saya utak-atik HP, atau membaca buku cerita, terkadang saya ajak teman sesama Indonesia jadi lumayan bisa ngobrol sembari menunggu anak. Karena belum pernah ketemu orang Indonesia yang mengkursuskan anaknya di sana, jadi sementara masih anak saya lah yang satu-satunya kursus dance. Ada teman dari Brunei tapi jadwal kursus anaknya lebih pagi, ya tidak pernah ketemu.

Sepulang dari kursus dance, kami semua pergi belanja kebutuhan sehari-hari seperti susu, ayam, sayur, buah dan lain sebagainya. Semenjak tinggal di sini, kami jadi terbiasa berbelanja sepekan sekali, maklum, tak ada abang sayur yang lewat depan rumah, atau emak-emak yang biasanya nawarin sayur matang siap lahap dengan harga murah meriah.

Sabtu malam, alias malam Minggu kami bertiga asyik ngobrol rame-rame di atas kasur, selimutan bertiga, sambil nonton suatu acara lewat laptop. Hobi yang satu ini memang khas di keluarga kami, hobi favorit bagi kami bertiga adalah "kruntelan" alias tidur berdempetan di atas kasur hihihi....... 

Wah ndak sadar sudah jam 9 malam, padahal mulai nulis blognya sejak jam 4 sore tadi, eits...tapi jangan dikira saya nulisnya terusan lho. Nulisnya terputus-putus, alias ditinggal-tinggal, diselai aktivitas lain, mengantar jemput anak mengaji di masjid, masak mie goreng, minum energen, nonton film, ngobrol, nah akhirnya kelarnya jam segini hehehe..... 

PS: Oiya tadi baru pertama kali ngrasain energen rasa jahe, ternyata enak bangeeeets, hangat di badan. Ini oleh-oleh dari temen Indonesia, top markotop dah, Alhamdulillah :-)

PPS: Liburnya nambah dong....belum kerasa liburan nih....(sabar-sabar....nunggu liburan pas natal dan tahun baru) biar bisa nyanyi lagu Tasya...Libur Telah Tiba.....


#Ayat hari ini:
Surat Az-Zilzal (Keguncangan) ayat 6-8:

6. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.
7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.

Rabu, 29 Oktober 2014

Kursus-an di Newcastle


Jika anda kebetulan juga salah satu anggota Persatuan Istri Student Dependent Indonesia di Newcastle (ini singkatan yang saya karang-karang sendiri), atau paling tidak calon dari anggota ini maka saya ada sedikit informasi yang bisa saya bagi dengan anda, dan semoga juga memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya.

Informasi yang akan saya tuliskan berikut ini adalah tentang tempat-tempat kursus di daerah Fenham, yaitu daerah tempat saya tinggal di Newcastle ini. Siapa tahu sembari menemani suami berjuang meraih gelar, juga ingin meningkatkan skill, menambah ilmu pengetahuan, agar kita menjadi istri dan ibu yang cerdas bagi suami dan anak kita. Sungguh cita-cita yang mulia bukan kedengarannya? (gubrak....). Dan ampuh untuk membunuh kebosanan karena berlama-lama berdiam diri di rumah.

Sebagai pemegang tier 4 visa alias pemilik visa student dependent ini agak-agak susah mengakses tempat-tempat kursus, karena yang diutamakan diterima kursus di UK ini biasanya imigran yang ingin mencari kerja, istri yang kebetulan suaminya pemegang British Passport, atau mereka yang ingin menjadi warga negara UK. Mereka-mereka ini bisa memilih dengan sesuka hati tempat kursus yang ingin mereka ikuti.

Tapi jangan berkecil hati dulu, atau berputus asa, asal kita jeli, masih banyak kok tempat kursus yang mau menerima kita, entah itu yang gratis ataupun yang berbayar. Tinggal sesuaikan saja dengan kondisi dompet yang waktu yang kita miliki.

First Step
Letaknya di Westgate Road, dekat perempatan jalan. Gedungnya agak nyempil di pojokan, dari luar akan terlihat seperti rumah penduduk biasa, tapi jika diamati, di atasnya pintu akan terlihat tulisan First Step dengan logo tangga di sana. Masuk saja dan ngobrol langsung dengan resepsionisnya. Di sana da banyak kursus, seperti ESOL, IT atau komputer, craft, menjahit, Keeping Up With The Kids, Conversation Class, konsultasi untuk membuat CV, serta kursus untuk mereka yang ingin jadi warga negara Inggris. Untuk mendaftar, kita perlu membayar, tapi tidak terlalu mahal. Besarannya tergantung jumlah kelas yang ingin kita ikuti. Mereka juga menyediakan sertifikat. Oiya juga ada penitipan anaknya lho, jadi kalau punya anak kecil, kita masih bisa mengikuti kursus dengan tenang. Kebanyakan yang ikut kursus di sini adalah juga para student dependent.

Millin Centre
Areanya di daerah Ellesmere Road. Jenis kursusnya kurang lebih sama dengan yang ada di First Step. Di sini tidak perlu membayar untuk kelas yang ingin kita ambil, melainkan membayar deposit saja, jumlahnya tahun laluhanya £5.00 tapi saya tidak tahu untuk tahun ini. Tahun-tahun lalu kursus ini tidak menyediakan sertifikat. Tempat ini juga menyediakan tempat penitipan anak, di sini istilahnya creche.

Nunsmoor Centre
Terletak di Nunsmoor Park. Di sana banyak kursus untuk para ibu dan balita, misalnya Baby Massage, Sing and Rhyme, Little Messy, dan lain-lain yang intinya membantu meningkatkan bonding antara ibu atau carrier dengan balitanya. Namun ada juga kursus ESOL (bahasa Inggris), dan mereka juga menyediakan attendance certificate. Kursus di sini gratis dan juga menyediakan jasa penitipan anak plus parkir buggy (kereta dorong anak). 

Angelou Centre
Lokasinya di pojokan jalan Brighton Groove, gedungnya mencolok dengan tulisan besar Angelou Centre di tembok gedungnya. Di sini lebih banyak menerima imigran dan memang program mereka mengutamakan pemberdayaan perempuan imigran. Tapi masuk saja dulu, cari informasi barangkali punya kelas untuk yang selain imigran. Alhamdulillah saya bisa mengakses kursus ESOL di sini, hanya saja untuk creche kadang tersedia kadang tidak. 

UWIG (University Women International Group)
Letaknya di dekat Newcastle University. Kalau tempat kursus ini memang dikhususkan untuk para istri yang suaminya kuliah di Newcastle University. Jadi sudah menjadi hak kita untuk mengakses kursusan yang satu ini. Tapi berhubung letaknya lumayan jauh dari rumah saya, saya tidak lagi pernah ikut kursus bahasa Inggris di sana. Kursusnya gratis, dan mereka juga menyediakan sertifikat. Biasanya sepulang dari sana, saya dan teman-teman tidak langsung pulang, melainkan jalan-jalan dulu ke museum Hancock karena lokasinya agak berdekatan.

JET (Job Education and Training)
Yang satu ini terletak di Grainger Park Road. Ada berbagai macam kursus yang bisa diakses terutama bagi mereka yang ingin mencari kerja di Inggris tanpa melihat jenis visa yang kita pegang. Mereka juga menyediakan personal advisor yang membantu kita mencarikan tempat kursus yang sesuai dengan tujuan kita. Dan yang paling penting adalah gratis karena mereka semacam NGO yang tugasnya membantu para pencari kerja. Kalau tidak gratis tentu saya tidak akan mampu mengakses mereka, biaya konsultasi individu pastilah sangat mahal di sini.

Nah itulah beberapa tempat kursus yang menyediakan kursus Bahasa Inggris di wilayah Fenham. Jika ingin mengetahui informasi lebih detail tentang alamat maupun program yang mereka miliki, bisa di googling. Tempat-tempat kursus ini memiliki situs internet, kecuali Nunsmoor centre, komuniti ini tidak mempunyai web, yang ada hanya no telepon. Kita bisa telepon ke sana atau langsung saja berkunjung ke sana dan ngobrol langsung dengan resepsionis di sana.  Selamat berburu tempat kursus ya.... Semoga Allah memudahkan, amin.


#Ayat hari ini:
Surat Az-Zilzal (Keguncangan) ayat 1-5:

  1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,
  2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,
  3. dan manusia bertanya, "Apa yang terjadi pada bumi ini?"
  4. Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,
  5. karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya.

Menjadi Student Dependent


Datang ke Newcastle, United Kingdom sebagai student dependent alias istri dari PhD student bukanlah suatu hal yang mudah. Yah...meskipun orang melihatnya "enak" dan "gampang" karena tinggal numpang suami, ngikut ke Inggris tanpa ada "usaha", tinggal menyiapkan diri saja, aji mumpung lah mungkin bisa dibilang. Saya akan merasa sangat senang jika kenyataannya memang demikian, suami yang belajar keras dengan sekolahnya, sementara saya tinggal bersenang-senang, berkeliling kesana-kemari sambil jeprat-jepret ambil foto wajah senyum dengan latar belakang pemandangan Eropa yang "wah" jika dilihat di sosial media. Wuih...wuih....jadi curhat online nih....(iya soalnya Mamah Dedeh lagi sibuk ceramah hi3...).
Ternyata di balik itu semua ada banyak hal yang harus diperjuangkan, misalnya. Saya bikin list saja ya biar lebih gampang penjelasannya:

Meninggalkan pekerjaan di Indonesia
Pekerjaan ini bisa jadi pekerjaan apa saja, pekerjaan di kantor, atau wirausaha di rumah. Para istri yang jadi student dependent disini biasanya mereka sangat aktif saat di Indonesia, ada yang menjadi dokter, guru, wirausahawati yang sudah banyak memiliki relasi. Nah saat tiba di sini dengan tugas baru "menemani" suami, Subhanallah bisa menjadi hal yang sangat melelahkan terutama psikologis, yang awalnya aktif melakukan ini dan itu tiba-tiba harus "berdiam diri" di rumah mengurus anak dan suami. Kehilangan ladang untuk beraktualisasi diri, dan menjadi "kehilangan" identitas, yang awalnya dikenal sebagai sebagai seorang guru misalnya atau dokter, kini hanya dikenal sebagai istri dari Pak Itu, atau Pak Anu. Hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi pemicu stress yang semakin akan bisa semakin menumpuk jika kita tidak bisa mengimbangi dengan hal-hal positif.

Kehilangan Lingkungan Sosialisasi dan Beradaptasi lagi
Selama di Indonesia tentu kita dengan mudah memilih lingkungan sosialisasi atau kelompok-kelompok orang yang nyaman untuk kita berteman. Kalau tidak cocok, kita tinggal mencari teman yang lain, atau bisa menghindari dari orang yang mungkin kita anggap kurang menyenangkan atau pernah menyakiti kita. Kita disediakan banyak pilihan kelompok-kelompok sosial yang sesuai dengan kita. Ada lingkungan sosial dari tempat kerja, ada dari komunitas wali murid tempat anak kita sekolah, komunitas pengajian, arisan, bisnisan, MLM-an, PKK, Posyandu wah buanyak deh pokoknya. Tapi di sini, kitalah yang harus menyesuaikan diri, tidak banyak pilihan tentunya karena kita tinggal di luar negeri sebagai kelompok minoritas. Jadi mau tidak mau, cocok tidak cocok, suka tidak suka kita pasti bertemu dengan lingkungan sosialisasi yang sama, di sebuah perkumpulan atau komunitas orang-orang Indonesia yang tinggal di Newcastle. Kita harus pandai-pandai menjaga diri menjalin hubungan agar tidak memicu konflik. Kan rugi juga kalau misalnya kita berkonflik dengan salah seorang di komunitas, sementara kita tidak bisa menghindar karena bakalan ketemu lagi dan lagi di setiap pertemuan komunitas. Saat bertemu jadi serba canggung, serba tidak enak hati,dan lain sebagainya. Sementara kalau menjauhi komunitas, malah akan semakin rugi sendiri, sudah tidak punya teman, tidak pula bisa makan enak makanan khas Indonesia yang biasanya hanya ada saat acara perkumpulan orang-orang Indonesia, nah kan? Masak mau hidup bagai katak dalam tempurung? Bagai kura-kura dalam perahu? Eh....ngapain ya tuh kura-kura naik perahu?? Ya begitulah intinya.

Berkurangnya atau hilangnya pemasukan pribadi
Ini tidak hanya berlaku bagi yang punya pekerjaan saat di Indonesia, melainkan yang punya hobi pun biasanya saat di Indonesia juga menghasilkan uang, di Indonesia apa sih yang tidak bisa diuangkan he3....kita bisa berjualan bross bikinan sendiri, kulakan jilbab dan dijual lagi ke teman-teman sendiri, pinjam motor bisa dipakai ngojek dan sebagainya. Di sini bukan tidak mungkin membuka peluang usaha, tapi tantangan lebih berat, otomatis yang biasanya ada pemasukan sekian tiap bulannya, jadi berkurang atau tidak punya pemasukan sama sekali. Ini juga pemicu stress tersendiri, yang biasanya mau beli apa saja tinggal beli, sekarang harus menengadahkan tangan dan minta ijin suami. Belum lagi harus menganut prinsip penghematan dan menghitung-hitung nilai kurs mata uang dari rupiah ke poundsterling, wow...

Membantu anak beradaptasi dengan sekolah dan teman barunya
Sudah sibuk dan jatuh bangun beradaptasi dengan situasi baru, pun harus tetap terlihat tegar di depan anak-anak kita, dan membantu mereka bisa melalui penyesuaian diri dengan baik. Saya masih ingat betapa sedih saat pertama kali meninggalkan anak saya di sekolah. Mengingat anak saya belum fasih berbahasa Inggris, di rumah saya membayangkan bagaimana kira-kira anak saya selama di kelas saat ingin ke kamar mandi, saat tidak bisa menjawab pertanyaan guru, atau misalnya saja jika ada temannya yang iseng, dan pikiran-pikiran lainnya, rasanya belum tega meninggalkannya sendirian di sekolah. Sepulang sekolah, saya selalu tanya ini itu tentang sekolahnya, temannya, maupun guru dan pelajarannya. Mengantar dan menjemput sekolah adalah hal yang mencemaskan sekali bagi saya, sementara anak saya terlihat biasa saja. Alhamdulillah, Emaknya memang agak lebay dalam hal kecemasan. Oiya, belum lagi kalau pulang bawa PR, saya dan suami kadang tidak mengerti bagaimana cara mengerjakan PR nya, anaknya ditanya pun juga tidak tahu.

Alhamdulillah setelah berjalan 2 tahun di sini hal-hal seperti itu mulai terkurangi, bukan berarti hilang sama sekali. Saya dan keluarga saya masih harus terus beradaptasi dan menata hati juga pikiran agar bisa menjalani kehidupan di perantauan dengan tenang, ikhlas, dan selalu pasrah kepada Allah SWT. Semoga Allah memberi kemudahan bagi para student dependent yang menemani suami-suami mereka berjuang, bukan menjadi beban melainkan menjadi penyemangat dan rekan seperjuangan yang tangguh, amin.

#Ayat hari ini:
Surat Al-Bayyinah (Bukti) ayat 6-8

6. Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.
7. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Selasa, 28 Oktober 2014

Cempluk - "Baju untuk si Kuning"


"Cempluuuk......,Cempluuuuk.......!" panggil si Emak berulang-ulang dari ruang tamu. Yang dipanggil belum menjawab. Emak segera bergegas ke halaman belakang di mana Cempluk berada. Ternyata dia sedang asyik bermain rumah-rumahan dengan pasir, dengan wajah yang juga bercelemot pasir bercampur keringat.

Perkenalkan tokoh cerita kali ini;
Nama: Cempluk binti Prapto 
Usia: 4 tahun 
Nama orang tua: Bu Prapto dan Pak Prapto
Hobi: bermain boneka, bermain pasir, berbicara dengan binatang, tumbuhan
Cita-cita: menjadi dokter hewan yang masih anak-anak karena cempluk takut dengan binatang yang sudah besar karena pengalaman pernah dikejar induk ayam.

Itulah sekilas tentang Cempluk yang sementara bisa penulis ungkapkan di sini.
"Cempluuuk......dipanggil dari tadi kok ndak njawab to nduk, itu lho bulik mu datang." lanjut Emak. "Lek Surti?" matanya berbinar tak percaya. "Iya sana, tapi...." belum selesai Emak berbicara, segera saja Cempluk berlari ke ruang tamu. "Cuci tangan dan muka mu dulu nduuuuk.....!" sambung Emak.

"Lek Surti.....mana boneka buatku?" Mata cempluk mengamat-amati tas yang dibawa Bulik nya. "Ndak mau lah....kalau bonekanya Lek kasih sekarang, malah kotor semua kena pasir di tanganmu." kata Bulik. Segera Cempluk berlari ke kamar mandi, mencuci tangan dan muka sekenanya saja lalu segera kembali menghadap Bulik Surti. "Mana Lek? Mana....?" Cempluk sudah tidak sabar. "Ini lho....." kata Bulik sambil mengeluarkan sebuah boneka dari dalam tasnya.

"Ahhhh.....bayi kelinci.....!" sambil segera mengambil dan kemudian memeluk erat boneka kelinci warna kuning itu. "Mau dikasih nama siapa?" tanya Bulik. "Klenthing Kuning Lek, seperti gadis baik hati yang di dongengkan bapak semalam." Jawab Cempluk dengan cepat. Rupanya dia masih terkagum-kagum dengan kisah dan perangai Klenthing Kuning yang baik hati.

"Bilang apa Cempluk?" Tanya Emak mengingatkan. "Terimakasih Lek Surti....." jawabnya girang sambil meremas boneka barunya.

Bulik Surti ini adalah adik dari Bu Prapto yang kerja di sebuah pabrik sepatu di sebuah kota besar, dan kos di sana. Biasanya sebulan sekali akan datang ke rumah Bu Prapto dan menginap barang 1 atau 2 malam sekedar melepas rindu dengan keponakan kesayangannya. Saat pulang, tak lupa selalu membawa oleh-oleh, terkadang kue, buku, baju, mainan, sepatu, dan yang terkahir ini adalah boneka kelinci.

Saat ini Emak sedang asyik melepas kangen dan ngobrol ke sana ke mari dengan Bulik Surti. Sementara Cempluk sudah di kamar tidurnya. "Lho masak sudah mau tidur, kan masih sore?" tanya Emak sedikit penasaran. Ternyata Cempluk sedang sibuk memilah-milah baju dari dalam lemari bajunya. Dia sedang membolak-balik baju di rak yang paling bawah, yang berisi baju-baju lamanya yang sudah kekecilan.

"Nah ini bagus warna pink", bisiknya pelan sambil menarik kaos pink bergambar bebek kuning kecil di bagian kanannya. Segera dia pakaikan ke bonekanya. "Yah....masih kebesaran. Tapi baju ini cocok buat si Kuning." kata Cempluk pelan. Dilipatnya kembali baju itu lalu disimpan, bukan di lemari melainkan dia letakkan di bawah kasur. "Aku simpan di sini dulu, biar besok tidak perlu susah-susah mencarinya lagi. Sabar ya Kuning." katanya pada si Kuning sambil mengelus-elus kepala bonekanya itu.

"Sudah makan nduk?" Tanya bapak yang ternyata sudah pulang dari berjualan kelapa di pasar. "Oh...bapak, belum pak", jawab Cempluk sedikit terkejut dengan kehadiran Bapaknya yang tiba-tiba. "Ya sudah segera menyusul Emak dan Bulik mu sana. Tadi bapak belikan sate ayam kesukaanmu di warung Mak Jum, Mak Jum lebihin 2 tusuk buat kamu nduk, kangen katanya." cerita Bapak panjang lebar. Tanpa mengomentari ucapan bapaknya, cempluk langsung bergegas menuju dapur untuk segera menyantap menu favoritnya. "Hemmm..." Bapak menghela nafas.

Mereka berempat makan sore dengan menu yang istimewa sambil sesekali bersendau gurau. Suasana jadi lebih ramai. Saat makan, Cempluk pun membawa serta si Kuning, dan berpura-pura menyuapinya. "Aku sudah menemukan baju baru buat si Kuning, mungkin 2 hari lagi bajunya akan siap." Cempluk memberi pengumuman. "Maksudnya kamu bikin sendiri?" tanya Lek Surti. "Ndak, tapi aku siapin tinggal nunggu 2 hari lagi, baru bisa dipakai oleh Kuning." "Oh...." jawab Bulik aga ragu karena sebenarnya tidak mengerti maksud "disiapkan". Bapak dan Ibu pun hanya mengangkat bahu saat Bulik melirik ke arah keduanya. Mereka pun kembali larut dengan tusuk-tusuk sate ayam itu dan cerita-cerita Lek Surti tentang hingar bingarnya kehidupan di kota besar.

Dua hari kemudian, sayang sekali Bulik sudah pulang kemarin harinya. Hari itu, pagi-pagi sekali, setelah bangun tidur, Cempluk segera melihat di balik kasur, mengambil baju pink, dan segera memakaikan pada boneka kelincinya. Diamat-amatinya baju yang telah menutupi badan bonekanya, dengan kepala agak miring ke kanan, alisnya terkernyit. "Kok masih besar sih...., jadinya masih longgar. Oh mungkin aku kurang lama menyimpannya, mungkin besok sudah pas dan bisa kamu pakai, kata Cempluk pada si Kuning." Kembali dilipat dan disimpannya baju itu di bawah kasur.

Keesokan harinya, dia periksa lagi, dipakaikan baju itu pada boneka kelincinya. "Lho kok masih kebesaran sih. Masak kurang lama?" Cempluk masih terheran-heran dan tidak mengerti. Pak Prapto dan Bu Prapto hanya memperhatikan saja kebiasaan baru anak semata wayangnya itu. Agak heran juga, tapi dibiarkannya saja, karena memang begitulah perilaku Cempluk selama ini selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan baru yang agak unik. Di lain hari Cempluk menggambar semua mainan yang dimiliknya dengan alasan untuk membuat daftar mainan yang sudah dimilikinya, nanti kalau Lek Surti datang, dia bisa meminta oleh-oleh mainan yang belum dipunyainya.

Menurut Pak Prapto dan Bu Prapto selama kebiasaan-kebiasaan itu tidak membahayakan, mereka membiarkannya saja, memberi ruang untuk Cempluk melakukan sesuatu dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan tetap mengawasi tanpa mengganggu privasi Cempluk sebagai anak-anak.

Besoknya Cempluk melakukan hal yang sama mengamat-amati baju pink itu dan memakaikan ke bonekanya, besok juga, dan besoknya lagi, kali ini wajahnya semakin cemberut, dan terlihat semakin kesal.

"Wa...............! Hu...hu.....!!" akhirnya kekecewaan Cempluk meledak juga pagi itu. Emak tergopoh-gopoh segera mendekati sumber suara tangis. "Ada apa to Nduk? Bikin kaget Emak." "Ini lho Mak...., bajunya kok lama banget jadi kecilnya....." Cempluk berusaha menjelaskan dengan suara tersendat oleh tangisnya. "Maksudnya gimana to Nduk?" tanya Emak yang tak mengerti maksud anak semata wayangnya itu.

"Ini lho Mak, bajuku yang sudah kecil ini mau tak kecilin lagi, mau tak pakaikan ke boneka baru yang dikasih Lek Surti." kali ini suaranya sudah agak lencar. "Dikecilkan gimana to Nduk?" tanya Emak mencoba menangkap maksud gadis kecilnya. "Ya dikecilkan, disimpan di bawah kasur, nanti kan lama-lama kecil sendiri kayak baju-bajunya Cempluk yang lain-lain itu, kalau lama disimpan kan nanti jadi kecil, dan ndak muat lagi dipakai Cempluk, trus Emak belikan baju baru lagi buat Cempluk." Cempluk nyerocos agak sedikit ingin menangis melihat Emaknya yang ternyata belum paham-paham juga atas maksud penjelasannya.

"Oh....Emak paham dengan jalan pikiran cempluk sekarang." kata Emak dalam hati. Memang kadangkala Cempluk tiba-tiba membongkar isi lemari, jika menemukan baju lamanya yang dia sukai gambarnya, dia ingin pakai lagi, tapi Emak selalu bilang, "sudah ndak cukup", "bajunya sudah kecil ndak cukup lagi buat Cempluk", "nanti Emak belikan lagi, kita cari gambar yang seperti itu nanti di pasar." Yah begitulah kira-kira ucapan Emak jika Cempluk tiba-tiba memaksa ingin memakai baju yang dulu pernah disukainya.

Rupanya selama ini cempluk salah paham, dia berpikir bahwa bajunya lah yang mengecil dan bukan badannya sebenarnya yang semakin tumbuh. Emak juga merasa bersalah karena memberikan penjelasan yang keliru. Emak pun mencoba menjelaskan. "Oalah Nduk....sebenarnya yang mengecil itu bukan bajunya, tapi badan Cempluk yang tambah besar dan tambah tinggi, jadi bajunya sudah tidak cukup lagi dipakai".

"Lha terus bonekaku ndak dapat baju Mak karena bajunya ndak bisa kecil? Boneka bisa besar ndak mak? atau Emak mau belikan baju buat si Kuning?" tanya cempluk nyerocos. "Heemm....coba Emak kecilin ya, bajunya dipotong dulu lalu dijahit dengan benang, kalau si Kuning ndak bisa besar, kan cuma boneka, ndak bisa makan, dan ndak bisa minum." jelas Emak dengan tenang. "O...gitu ya Mak, ya udah nanti Kuning aku minta bersabar nunggu baju barunya." kali ini Cempluk mulai paham dan mereda kekecewaannya.

Cempluk pun kembali asyik dengan bonekanya. Sementara Emak mau menyiapkan sarapan dulu sebelum memulai mengecilkan baju buat si Kuning.


#Ayat hari ini:
Surat Al-Bayyinah (Bukti) ayat 1-5

  1. Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,
  2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Al-Qur'an),
  3. di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).
  4. Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.
  5. Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Jumat, 24 Oktober 2014

Alhamdulillah Tahun Baru Hijriyah


# Ayat hari ini:
Surat Al-Qadr (Kemuliaan) ayat 1-5

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.
  2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
  3. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
  4. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
  5. Sejahterakanlah (malam itu) sampai terbit fajar.