Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2015

Kisah Akhir dari Sebuah Keluarga Kecil

 
Saya bertemu dengan pasangan ini saat kami sedang berkunjung ke salah satu tempat wisata di dekat rumah kami. Waktu itu saya tertarik untuk terus memperhatikan keluarga kecil dengan satu anak ini. Awalnya karena saya terkesima dengan wajah cantik si istri, dan suami di sebelahnya yang terlihat gagah, serta seorang anak yang lincah, sungguh serasi. Gerak-gerik mereka juga menggambarkan keharmonisan keluarga mereka. Dalam hati saya amat terkagum-kagum dan turut berbahagia melihat kegembiraan mereka yang sedang menikmati suasana di tempat wisata, meskipun saya tidak mengetahui mereka sama sekali.

Waktu demi waktu pun berlalu. Suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang kawan, nah di sanalah terjadi sesuatu yang mengejutkan saya. Saya dikenalkan dengan salah seorang teman sekaligus tetangganya yang ternyata perempuan cantik yang secara sembunyi-sembunyi telah saya perhatikan dulu. Saya pun bersalaman dengannya dan mengenalkan diri, anak semata wayangnya juga turut serta saat itu. Kamipun saling bertukar cerita ringan. Cara berceritanya yang antusias, lucu, cara tertawanya yang segar semakin menambah kecantikan wajahnya sekaligus menunjukkan bahwa dia wanita yang menarik dan kuat, sekaligus supel dalam pergaulan.

Hari-hari berikutnya setiap kali saya berkunjung ke rumah kawan saya, hampir bisa dipastikan saya bertemu dengannya karena lumayan sering perempuan ini singgah ke rumah kawan saya yang satu ini. Begitu seterusnya hingga beberapa bulan berlalu. Namun belakangan saya pun sudah jarang bertemu, bahkan hampir tidak pernah melihatnya lagi. Saya tidak terlalu peduli dan tidak menyadari perubahan itu.
 
Tiba-tiba suatu hari, kawan saya ini menawarkan jika ada rumah dijual cepat. Karena sedang tidak mencari rumah, maka saya tidak begitu perhatian dengan info yang dia sampaikan. Setelah sekian lama barulah kawan saya bercerita jika rumah yang dijual adalah rumah perempuan yang selama ini saya kagumi. Alasan dijual cepat bukan karena sedang butuh uang melainkan agar pembagian harta gono-gini dapat segera terselesaikan. Lho kok pembagian harta gono-gini?
 
Ternyata sekian lama tidak bertemu sudah terangkai kisah yang teramat panjang dan rumit di antara perempuan itu dengan suaminya. Entah seperti apa liku-liku perjalanan episode hidupnya, hingga terjadi peristiwa pencetus yang menyebabkan mereka harus menempuh jalan hidup masing-masing. Saya sebut sebagai peristiwa pencetus karena mungkin saja sebenarnya ada banyak masalah yang kian lama kian menggunung dan akhrinya tinggal menunggu waktu untuk meletus.
 
Peristiwa pencetus itu tidak lain adalah karena sosial media. Perempuan cantik itu rupanya kembali terseret kenangan masa lalu saat bertemu teman SMP nya dulu melalui dunia maya. Obrolan demi obrolan tanpa sadar mendekatkan hati keduanya dan menjadi pemicu perpisahan tersebut. Demikianlah kisah keluarga kecil bahagia itu harus berakhir. Sungguh semuanya serba diluar dugaan. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Tak lupa selalu memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberi perlindungan, dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau dan kita semua, amin.
 
 
 
 
 
 
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina) ayat 221-225:
 
221. Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun mereka menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.
 
222. Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, "Itu adalah sesuatu yang kotor." Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang ditentukan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.
 
223. Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.
 
224. Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
 
225. Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. 

Senin, 04 Agustus 2014

Happy 10'th Aniversary

Ini yang motret anaknya hi3.....

Alhamdulillah pada bulan Juli 2014, tepatnya tanggal 21, saya dan suami merayakan hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10. Anniversary tahun ini Alhamdulillah istimewa, pertama karena sudah memasuki 1 dekade dengan selamat,dan juga dirayakan di luar negeri alias di UK cie......, juga Allah mengauniakan kami anak perempuan yang saat ini usianya mendekati 8 tahun, masyaAllah....semoga Allah menjagamu nduk, dan juga menjaga pernikahan kami agar selalu sakinah, mawadah, warahmah, amin.

Sore itu kami merayakannya dengan menikmati Kebab di restoran kecil yang bernama Mumtaz, tidak jauh dari rumah, kira-ki,ra 10 menit jalan kaki santai sambil ngobrol-ngobrol ringan. Berhubung kebab itu daging kambing, dan yang suka dan bisa makan daging kambing hanya saya saja maka anak dan suami saya lebih memilih menu lain, yaitu fish and chips tak lupa ditambah dengan saus garlic kesukaan Ara. Kami beli untuk dibawa pulang karena waktu itu masih bulan Ramadhan, jadi makanannya untuk buka di rumah saja. Oiya sekedar info tambahan, waktu itu jam buka sekitar jam 21.30 an he3....dan kita ngabuburitnya waktu itu jam 20.00 an, malem banget kan? Tapi kita belum mengantuk karena matahari  masih bersinar terang he3....

Malam itu kami bertiga mengobrol santai, menyukuri dan menikmati kebersamaan kita sambil mengingat-ingat masa lalu yang tidak mudah kami lalui, namun Alhamdulillah Allah selalu memberikan pertolongan dan kasih sayang Nya kepada keluarga kecil kami.

Menikmati fish and chips...emmm yummi....


# Ayat hari ini
Surat Al-Insyiqaaq ( Terbelah) ayat 21-25

21. dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud,
22. bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (nya).
23. Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).
24. Maka sampaikanlah kepada mereka (ancaman) azab yang pedih,
25. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.

Senin, 07 April 2014

Menu Pembangkit Selera dan Masa Lalu


Beberapa hari lalu saya minta dibikinkan sambal terasi pada suami. Rasanya lama sekali suami sudah tidak bikin sambal terasi kesukaan kami berdua. Maklum semenjak habis operasi, suami memutuskan untuk menghindari makanan-makanan pedas dan aneka sambal. Tapi hari itu saya meminta jika tidak keberatan, boleh lah bikin sambal terasi buat saya, alhamdulillah dengan senang hati, suami mengabulkan permintaan saya.

Saya tak menyia-nyiakan waktu lagi, segera saya menyiapkan lauk padanan yang cocok dengan sambal terasi bikinan suami, yaitu ati ayam dan terong goreng waw.....pikiran saya langsung melayang ke masa lalu. Semasa saya dan suami awal-awal menikah dulu, semasa masih di Surabaya, kami sering sekali menikmati Lele penyet lesehan di sepanjang jalan Dharmawangsa, Karangmenjangan, maupun Kertajaya. Menunya kurang lebih seperti itu, nasi putih hangat, lele goreng, ati ampela goreng, terong, dan sambal bajak, sesekali kadang ditambah telur dadar. MasyaAllah sungguh nikmat.

Dulu di Surabaya karena nge-kos jarang sekali masak, jadi lebih sering beli. Lele penyet sudah seperti menu wajib bagi kami berdua. Habis sholat magrib, kami berkeliling mencari lesehan yang tidak terlalu ramai pembelinya, agar kita bisa menikmati makan malam sambil ngobrol berdua, dan berlama-lama di sana. kami memang makannya sering lama, selain karena sambil ngobrol, terutama saya punya kebiasaan buruk, makannya lambat, tapi Alhamdulillah suami malah menikmati, biasanya kalau suami selesai makan duluan, dia meminum teh hangatnya sambil diam-diam menatap saya yang sedang konsentrasi memilah-milah duri ikan lele. Jika tiba-tiba mata kami beradu pandang, dia pura-pura mengalihkan pandanganya. Setelah saya paksa bertanya apa maksudnya liat-liat terus. Sambil tersenyum dia bilang pelan "Kamu cantik", lalu kami berduapun tertawa, sambil saya (pura-pura) sewot.

Kalau sudah gitu, biasanya ada pandangan aneh dari sekitar. Mungkin mereka mengira kami masih pacaran kali ya. Selesai makan, kami biasanya lanjut dengan ngobrol segala hal, tentang kuliah, tentang dosen di kampus, soal magang, atau skripsi. Ups....kalau ngomongin skripsi biasanya kita langsung adu argumen, sering tengkar malah kalau ngomongin topik yang satu ini. Maklum, waktu itu suami sudah mengajar di UMM, jadi saat membicarakan skripsi, ego sebagai dosennya muncul deh, nah jadi bete kan. Entah komentar teorinya kurang lah, metodenya tidak tepat, sample nya harus begini, begitu bla...bla...bla.... @X#!!!=[$% fyuh.... rasanya semua-muanya disalahin, gak ada bagus-bagusnya, kritik melulu.

Yah....sebenarnya tujuannya baik sih, dia cuma ingin skripsi istrinya tersayang bisa kelar dengan lancar dan harapannya dengan sarannya itu malah lebih mempermudah saya, intinya ingin membantu, itu saja bukan bikin down dan sebagainya. Setidaknya itu yang disampaikannya kalau mata saya sudah mulai berkaca-kaca, sambil berupaya meraih tangan saya.

Kalau sudah gitu, segera beranjak dari warung pecel lele lesehan. Kan wajah sudah mulai memerah, mata berkaca-kaca, udah nggak asyik dilihat banyak orang, malu. Sepanjang jalan kembali ke kos-kosan, suami keukeuh menggenggam tangan, sambil meminta maaf kalau ada sarannya yang menyinggung perasaan. Saya nya "Nggak semudah itu dong", dalam hati. Sampai di kos, suami masih berusaha merajuk, sambil menceritakan hal-hal yang lain untuk mengalihkan. Terakhir dia bertanya, "Besok mau nyobain warung pecel lele yang sebelah mana?". Saya masih diam saja.

Rasanya lucu sekali mengingat-ingat kenangan masa lalu kami berdua, mudah sekali terpicu untuk bertengkar gara-gara sesuatu yang bukan prinsip, maklum lah masih adaptasi, ego masih tinggi, jadi mudah tersinggung, untungnya suami orang yang sangat sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan saya. Menu pecel lele dan warung-warung lesehannya akan tetap menjadi bagian kenangan indah bagi kami.

Hari itu sambil menikmati sambal terasi bikinan suami, saya bilang padanya, "Makasih ya Bi, sambalnya enak, suatu hari nanti kita ke Surabaya lagi ya Bi, kita cari lesehan yang dulu". Suami saya hanya tersenyum, sambil menatap hangat.....ke arah laptop di depannya....@@%%##**

Selasa, 04 Juni 2013

Salah Paham



Namaku Rahmi, panjangnya, em...tidak usah ya...panggil Rahmi aja. Aku baru bekerja di kantor ini, satu bulananlah, kantor apa, rahasia deh....yang jelas di kantor ini banyak pekerjanya laki-laki. Hemmm laki-laki...salah satunya itu yang membuatku tidak terlalu nyaman bekerja disini, khususnya karena seorang laki-laki.

Awalnya adaptasi lancar saja, meski aku belum punya teman akrab, tapi teman untuk "say hai...", ada. Aku tidak terlalu butuh juga sih teman akrab untuk curhat. Tujuanku disini untuk bekerja...ya bekerja saja. Meskipun sebagian besar keluargaku berharap dengan bekerja, aku bisa memperluas pergaulanku, menemukan calon suami, dan segera menikah. Huffftt....lagi-lagi menikah,...ini semua karena dua adik perempuanku sudah menikah saat mereka masih kuliah. Sedang aku, masih sibuk dengan diri sendiri. "Bekerja memang harus serius, harus itu, tapi kamu juga harus memikirkan calon suami...", kata ayah suatu ketika saat aku menyampaikan alasanku untuk serius bekerja dulu.

Di rumah diceramahi soal calon suami, di tempat kerja....duh...laki-laki satu ini benar-benar menyebalkan.

Awalnya saat rapat di depan jajaran direksi sekaligus perkenalanku sebagai pegawai baru di hadapan semua pegawai, perasaanku sudah tidak enak. Matanya itu lho...tidak sungkan-sungkan menatapku, pake melongo pula sampai disenggol teman sebelahnya. Benar-benar tidak sopan. Selanjutnya tidak jarang aku memergokinya curi-curi pandang ke arahku.

Sebel? Jelas, aku merasa direndahkan oleh makhluk yang satu ini. Tersanjung? Idih....jauh kaliii..... Semakin hari, laki-laki satu ini...emm sebut nama nggak ya....oke lah, sebut saja Sigit, belum menikah, sudah punya jabatan di kantor ini, emmm lumayan good looking sih....tapi ndak punya sopan-santun, ya matanya itu yang ndak sopan.

"Eh...tuh orangnya..." sekilas ku mendengar seseorang berbisik-bisik dengan Sigit saat aku berjalan ke arah kantin untuk makan siang. Ah...cari perkara lagi, batinku....kenapa laki-laki ini ngobrolin aku dengan laki-laki lain? Sudah berapa kali dia melakukan ini? Sudah berapa laki-laki yang dia ajak ngomongin tentang aku,....jangan-jangan seisi kantor ini...hiii...ngeri...

Apa sih sebenarnya motifnya? Mencuri pandang lah.....ngomongin di belakang lah.... "Nah...mungkin dia naksir temen kamu....", jawab ayah saat aku membicarakan Sigit dengan sedikit kamuflase bahwa itu terjadi pada teman kantorku.

Naksir?....Ah.....jadi kacau pikiranku...

Pagi itu aku sedikit terlambat masuk ke kantor, aku terburu-buru dan ups....saat terburu-buru membuka pintu...."Awww..." aku mendengar teriakan laki-laki di balik pintu...rupanya Sigit yang juga sedang menuju ke pintu, pintu yang kubuka itu secara tidak sengaja mengenai bahunya dengan keras. "Maaf..." kataku spontan, sesaat aku merasa bersalah. Matanya lagi-lagi menatap tajam ke arahku....lalu...tiba-tiba tangannya mengarah ke bahuku, sebelum sampai, aku segera menghindar dan pergi dengan menunjukkan wajah judesku. Hilang sudah rasa bersalahku seketika itu.

Mulai berani....gumamku dalam hati. Semenjak saat itu, aku tak sungkan-sungkan lagi menunjukkan rasa ketusku, sudah keterlaluan sekali menurutku. Hari-hari berikutnya, beberapa kali pula dia sepertinya berusaha ingin mengajakku bicara, tapi langsung kusambut dengan muka masamku. Rasanya masih belum bisa memaafkan perilaku-perilaku sebelum-sebelumnya. Hingga puncaknya.....siang itu saat aku hendak ke kantin seperti biasa. Dia sudah menyambut di dekat pintu masuk kantin. "Rahmi...." katanya berusaha sesopan mungkin, kali ini dia menahan matanya, sudah kehilangan nyali untuk menatapku rupanya. "Saya minta maaf...", lanjutnya lirih, lalu pergi tanpa melanjutkan kalimatnya ataupun menunggu jawabanku.

Aku terpaku sesaat, antara terkejut dan penuh tanda tanya. Lalu aku segera mengabaikan perasaanku, mendekati penjual kantin dan memesan makan siang kesukaanku. "Seperti biasa ya mbak, kali ini minumnya es jeruk saja".

Aku belum pernah memesan es sebelumnya, hanya saja siang aku aku merasa sangat-sangat kegerahan di ruang kantin kantor yang ber AC ini.

Hari-hari berikutnya lebih tenang bagiku, tidak aka lagi tatapan mata ataupun curi-curi pandang. Juga tak ada lagi kasak-kusuk dibelakangku. Semuanya tenang, hanya saja kepalaku menjadi penuh tanya, kenapa....kenapa...dan kenapa? Oh....harus bertanya kepada siapa? Harus kucurahkan kepada siapa? Aku tak cukup berani menumpahkan isi hatiku pada seorang teman dekat...atau pada ayahku sekalipun aku menceritakan kisah atas nama temanku. Haruskah aku berkutat dengan diary....lagi? Sudah lama tak kulakukan itu, menurutku itu kekanak-kanakan sekali...semakin sesak dada ini.

Benarkah aku mulai merindukan tatap matanya?
Dear, Diary....

###############################################################################

Namaku Galuh Sigit Setiawan, biasa dipanggil Sigit oleh teman-temanku. Aku sudah lama bekerja di kantor ini, semenjak kuliah aku mulai magang di kantor ini, jadilah saat aku lulus kuliah, aku mendapatkan kepercayaan untuk mengelola sebuah divisi di kantor ini. Aku syukuri keberuntunganku ini.

"Hei...ke ruang rapat....segera...", kata Bagus tiba-tiba. "Kata staf personalia ada pegawai baru", lanjutnya "Trus...", sahutku. "Perempuan....", lanjutnya berapi-api. "Biasa aja lah Gus", timpalku kalem. "Tumben kan?...seribu satu...", terangnya lagi. "Woi...nyadar...", sambil kulempar buku yang kebetulan ada di atas mejaku, spontan membuat dia kaget dan reflek menangkapnya. "Sadis kau....", protesnya. Aku segera berjalan mendahuluinya ke ruang rapat.

"Namaku Rahmi, saya pegawai baru bagian HRD", kata pegawai baru itu di depan semua peserta rapat. Deg....tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Aku merasa sangat-sangat mengenal wajahnya, benarkah itu dia? "Ssst...", tiba-tiba Bagus menyenggol bahuku dengan keras. Aku segera mengalihkan tatapan mataku dari pegawai baru itu.

Bukan Rahmi namanya, aku masih ingat dengan segenap hatiku, namanya bukan Rahmi, tapi Rina, mengapa wajahnya begitu mirip? Apakah dia Rina yang mengaku sebagai Rahmi? Atau nama sebenarnya Rahmi, hanya saja dia mengenalkan padaku sebagai Rina? Kenapa? Apa alasannya? Tiba-tiba saja masa laluku berkelebatan kesana-kemari. Masa lalu yang mulai sanggup aku kubur dalam-dalam, kini tiba-tiba saja ada di depan mata, di kantor ini, satu kantor denganku.

"Heh......", tiba-tiba saja Bagus memukul keras bahuku. "Cie...mulai melamun...awas sebentar lagi up-date status galau" sambungnya dengan mimik setengah serius. "Cerita dong....gosip-gosip antar lelaki...100 persen dijamin kerahasiaannya, tidak akan tembus ke media massa ataupun intel rahasia...", cerocosnya. "Kerja Bro....", coba tak menghiraukannya, kembali mengetikkan sesuatu ke laptop di depanku.

Tiap hari Bagus mulai mengintimidasi, sementara aku masih kebingungan dengan fakta di depan mata dan kenangan-kenangan masa lalu. Beberapa kali mencuri-curi untuk mengamat-amati wajahnya. Meyakinkan apakah orang yang kini sekantor denganku adalah orang yang sama yang dulu aku kenal? Tapi wajahnya kenapa begitu sinis terhadapku? Tidakkah dia mengenaliku? Atau kini dia tak mau lagi mengenaliku. "Anggap saja aku adikmu Mas, itu lebih nyaman buatku, atau jika terlalu sakit bagimu, anggap saja kita tak pernah bertemu", tiba-tiba kata terakhir Rina terngiang-ngiang di telingaku.

Semakin hari pikiranku mulai berputar-putar tentang itu-itu saja. "Kau ingin mendengar ceritaku?", tantangku pada Bagus. "Eeaaa mulai curhat nih....tenang bro bisa dipercaya", sambil menepuk-nepuk dadanya. "Sebenarnya males, tapi biar kamu nggak terus-terusan curiga dengan berbagai hipotesis-hipotesis gilamu itu!". "Ini baru mas bro yang ku kenal...", lanjutnya. "Syaratnya...traktir ya...", tantangku sambil mengangkat kedua alisku. "Waduh...kayak artis aja neh pake minta bayaran...". "Itu namanya negosiasi", sahutku.

Sembari makan siang di kantin, aku mulai bercerita tentang masa lalu yang tiba-tiba kembali muncul di kehidupanku. "Kenapa kamu ndak ngajak kenalan aja,...pura-pura belum kenal gitu kek...tanya kabar", kata Bagus mencoba menawarkan solusi yang nekat ala dirinya. "Kamu ndak ingat ya....apa kata-kata terakhirnya padaku? Dan aku perhatikan wajahnya nampak lebih judes sekarang, dan sepertinya dia sudah tidak mengenalku sama sekali.....sama sekali...!", jawabku sambil menekankan poin akhir kalimatku. "Wah gawat itu Git, sepertinya dia....eh...tuuh orangnya", tiba-tiba suara Bagus melirih karena tiba-tiba saja Rahmi atau Rina di depan pintu masuk kantin. Kami sama-sama terdiam, mencoba tenang dan segera menghabiskan makan siang. Suasananya sudah tidak lagi nyaman.

Pagi itu aku, begitu masuk ke ruang kerja, aku teringat ada map yang tertinggal di kendaraan. Aku segera berbalik, dan bergegas menuju tempat parkir. "Aww....!" tiba-tiba pintu yang akan kubuka, begitu saja menghantam bahuku dengan keras. "Maaf...", kata perempuan didepanku, terlihat terburu-buru. Sesaat aku merasakan kelembutan hatinya, tidak nampak judes seperti biasanya. Aku mencoba memberanikan diri untuk mulai berbicara, saat aku mengangkat tanganku mencoba mengingat-ingat sesuatu tentang dirinya, tiba-tiba saja dia menjauhkan dan memalingkan bahunya. Seketika raut wajahnya berubah, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dengan kata-kataku yang tertahan.

Beberapa hari ini, rasa penasaranku semakin memuncak.Aku mencoba saran Bagus untuk memulainya mengajak berbicara, tanpa tendensi...begitu sarannya, mencoba bijak. Tapi semakin aku berusaha mendekatinya, semakin ku melihat ekspresi wajahnya yang sangat tidak membuatku nyaman, dia semakin menghindar, dan menghindar. "Laki-laki tak mengenal putus asa Git....", celoteh Bagus tiba-tiba, mencoba menyemangati.

Hari ini semuanya jelas, semuanya terang sudah. Aku menarik nafas panjang, entah merasa lega atau merasa kecewa dengan kebenaran yang aku terima. Aku menata hatiku saat berangkat ke kantor pagi berikutnya.

"Gimana Git?, tanya Bagus menyambut kedatanganku di kantor. "Aku salah....", jawabku. "Apanya?", tanya Bagus penasaran. "Beberapa hari lalu aku mencoba menghubungi salah seorang teman lamaku yang aku ingat adiknya satu fakultas dengan Rina. Lalu aku menghubunginya, kujelaskan alasanku lalu aku mulai bertanya tentang Rina", aku berhenti sejenak menarik nafas sedalam-dalamnya, dan kali ini Bagus terlihat lebih tenang mendengarkan daripada biasanya. "Dia menjelaskan bahwa Rina sudah menikah saat kuliahnya memasuki semester ke 5, setelahnya dia mengambil cuti. Dia tak menyampaikan kabar itu padaku karena aku memang tak pernah mengungkapkan secara langsung perasaanku padanya. Dia hanya bingung, oleh sebab itu kata-kata terakhirnya hanya mengambang. Setelahnya aku tak pernah bertemu lagi dengannya". Aku terdiam, menunggu reaksi Bagus. "Kenapa dulu kau diam saja?", selidik Bagus. "Aku sendiri masih bingung dengan perasaanku juga Gus, saat itu aku juga sedang sibuk-sibuknya membuat laporan magang, dan belum terpikir untuk serius tentang hal itu. Aku merasa kehilangan setelah aku sadar bahwa dia tidak pernah ada lagi di sekitarku. Aku merasa dia menghilang begitu saja.", lanjutku, lalu kami sama-sama terdiam agak lama. "Aku merasa mendapat kesempatan kedua, begitu melihatnya lagi". lanjutku lagi, memecah keheningan.

"Bagaimana dengan Rahmi?", tanya Bagus tiba-tiba. "Ya...", aku terdiam lagi sejenak sambil mengusap kepalaku. "Dia adalah kakak Rina, usianya terpaut hanya 1,5 tahun dan wajahnya begitu mirip memang, begitu kata adik temanku", jawabku sambil menahan rasa bersalah terhadap Rahmi yang selama ini kusangka Rina. Bagus menepuk bahuku, kali ini tanpa mengatakan apa-apa, lantas dia pergi menuju ke ruangannya. Aku masih tertunduk di mejaku.

Siang itu, aku sengaja menunggu kedatangan Rahmi di kantin. Kulihat dia berjalan ke arah kantin, aku segera berdiri, menghampirinya. "Rahmi....", Rahmi melihat ke arahku sedikit terkejut. "Saya minta maaf", lanjutku, lalu aku pergi meninggalkannya dengan wajah penuh heran. Aku tak ingin berlama-lama di hadapannya, ataupun mendengar respon darinya. Sepertinya aku belum sanggup menerima kemarahannya yang bisa saja tertumpah saat itu karena ulahku selama ini. Hatiku masih terlalu lelah mencoba menerima kenyataan yang beberapa hari lalu kuterima. Aku lega sudah meminta maaf padanya, dan aku tidak perlu konfirmasi apakah dia menerima atau tidak maafku itu.


The End

Pohon Harapan Simbah


"Mbah badhe teng pundi?" (Mbah mau kemana?) tanyaku kepada seorang simbah kakung tetanggaku. "Arep nang omahe putuku" (Mau ke rumah cucuku), jawabnya. Rumahnya cucunya itu tepat berada di depan rumahku, aku berjalan beriringan dengan simbah itu, Waktu itu aku baru saja pulang dari belanja sayur. "Simbah yuswone pinten?" (Simbah usianya berapa?) tanyaku lagi, "Pokoke wis akeh ra ngerti piro" (pokoknya sudah banyak, tidak tahu berapa), jawabya sambil berjalan terbungkuk-bungkuk. "Lahir tahun pinten to mbah?" (Lahir tahun berapa to mbah?) tanyaku lagi penasaran karena aku lihat simbah ini masih rajin beraktifitas ke kebun di belakang rumahku, merasa heran saja. "Pokoke aku jaman Jepang kae wis sekolah" (Pokoknya saya jaman Jepang dulu sudah sekolah), "Teng pundi mbah?" (Dimana mbah?), lanjutku. "Yo ning sekolah opo kae....." (Ya di sekolah apa itu....), tak melanjutkan jawabannya, pandangannya tertunduk mengamati jalan di depannya. "Pareng mbah kulo lurus nggih, atos2 mlampahe mbah...." (Permisi mbah, saya jalan lurus ya, hati-hati ya mbah).  "Iyo Nduk" (Iya Nak), jawabnya sambil terus memperhatikan jalan di depannya yang berbatu dan agak menurun.

Aku belum lama menjadi tetangga simbah kakung itu karena aku baru tinggal di lingkungan itu belum genap setahun. Rumahnya sebenarnya tidak begitu jauh dari rumahku, hanya saja aku belum pernah mengunjunginya. Setiap pagi aku tak pernah absen melihat simbah berangkat ke kebun, dan kadang saat simbah pulang siang harinya aku juga mengetahuinya. Badannya sudah mulai bungkuk, tapi tak pernah menghalanginya untuk berjalan mendaki menuju kebunnya sambil membawa sabit, dan pulangnya kadang membawa rumput, kayu, atau sayur-mayur.

"Mboten pegel-pegel mbah?" (Tidak capek mabh badannya?) tanyaku suatu hari saat melihat simbah pulang dari kebun sambil membawa banyak sekali bawaan. "Ora nduk, wis kulino, mengko lek neng omah wae awakke embah malah loro kabeh..." (Tidak Nak, sudah terbiasa, nanti kalau di rumah saja badan embah malah sakit semua), jawabnya.  "Monggo pinarak mbah...." (silahkan mampir mbah), tawarku kepada simbah. "Suwun bu...." (Terimakasih bu...),  kali ini simbah memanggil saya dengan bu, agak heran juga. Dalam hati aku mendoakan simbah semoga dikaruniakan kesehatan agar simbah bisa melakukan aktifitas kesukaannya yaitu pergi ke kebun.

Sore hari saat aku mengambili jemuran di samping rumah, tidak sengaja aku  melihat sosok simbah berjalan ke arah kebun. "Lho mbah tumben sore-sore badhe tindak pundi?" (Lho mbah, tumben sore-sore mau pergi kemana?) tanyaku. "Teng kebon bu...." (Ke kebun bu...), jawabnya agak sedikit berteriak. "Kok sonten to mbah?" (Kok sore mbah?) tanyaku lagi. "Ajenge nandur niki lho bu" (Mau menanam ini lho bu), kata simbah sambil menunjukkan benih mungil yang ada di genggaman tangan kirinya. kali ini simbah berbahasa jawa kromo. Benih itu kira-kira masih berukuran 10cm. "Uwit nopo niku mbah?" (Pohon apa itu mbah?). "Kemiri bu", jawabnya lagi. "Lho lak tasih dangu mbah panene wong tasih alit ngaten" (Lho nanti kan masih lama mbah panennya, kan masih kecil gitu), lanjutku penasaran. "Inggih bu kersane damel anak putu" (Iya bu biar untuk anak cucu). "O...ngaten" (O....begitu), gumamku. Simbah melanjutkan langkahnya. "Atos-atos nggih mbah......" (Hati-hati ya mbah.....), teriakku hampir lupa menyampaikan yang satu itu.

Begitu masuk rumah sembari  merapikan cucianku yang sudah kering, jawaban simbah masih terngiang di telinga dan kepalaku. Bagiku simbah sangat bijaksana sekali, di usianya yang tua simbah masih peduli dengan anak dan cucunya dengan menanam benih pohon kemiri yang entah berapa puluh tahun lagi akan panen, itu pun kalau tumbuh dengan subur, bagaimana kalau kemudian benih itu dimakan kambing yang digembalakan, atau begitu saja tercabut oleh kanak-kanak yang sedang bermain di kebun? Oh...berliku sekali perjalanan bibit kemirimu mbah....terbersit rasa ngeri juga jika itu terjadi. Membayangkan perasaan simbah yang hancur berkeping-keping jika pohon harapannya tidak tumbuh sesuai harapan si mbah.

Di saat yang lain sibuk mencari penghargaan diri melalui harta dan jabatan, disaat kata "peduli" berubah hanya sekedar fiksi, saat semua dunia diukur dengan materi, simbah yang kini semakin bungkuk itu tetap menumbuhkan kepeduliannya melalui bibit pohon kemiri. Ah...simbah telah menyindirku habis-habisan rupanya. Dengan usia tuanya, dengan susah payahnya berjalan, dengan semangatnya, semuanya. Simbah lebih kaya segala sesuatunya dari pada aku yang jauh lebih muda dari simbah.

Aku tidak melihat simbah beberapa hari ini, aku penasaran dengan pohon kemiri simbah, sudah mulai tinggikah, sudah mulai banyak daunnya kah? semakin subur atau mengering?

"Simbah sakit. Opname di rumah sakit...sudah satu minggu, sesak nafas, sempat kritis". Deg...sesaat terasa sesak di dadaku mendengar jawaban tetanggaku yang juga masih cucu simbah saat aku menanyakan kabar simbah. Aku berniat menjenguk simbah di rumah sakit, tapi belum juga aku punya waktu untuk kesana, huffft....keburu meninggal nanti simbah...Astagfirullahalazziim.....kata itu tiba-tiba muncul begitu saja di benakku. Ok besok harus kesana janjiku dalam hati. Sorenya aku mendapat kabar jika simbah sudah pulang. Ah...leganya berarti simbah sudah sehat lagi.

"Sakjane dereng saras bu, simbah mekso, sampun mboten betah...selak pingin tilik kebon niku lho bu" (Sebenarnya belum sembuh betul bu, simbah memaksa, sudah tidak betah...ingin segera menengok kebun itu lho bu). Kata salah sorang anak perempuan simbah menjelaskan kenapa simbah tidak mau dirawat di Rumah Sakit sampai benar-benar sembuh. Simbah hanya terbatuk-batuk mendengar obrolan kami. "Nggih ngoten niku embah, di ken istirahat teng griyo mboten kenging...terose awake pegel sedoyo, niki namung kulo paringi wedang jahe mben dinten kalih obat saking rumah sakit" (Ya begitu embah, diminta istirahat di rumah tidak bisa...katanya badannya pegal semua, sekarang ini cuma saya kasih minuman jahe setiap hari dan obat dari Rumah Sakit). Lanjutnya lagi. Setelah lama ngobrol dan sedikit "menasehati" simbah agar lebih banyak beristirahat, aku berpamitan pulang pada simbah dan putrinya. Pulang sambil membawa banyak hal dalam pikiranku.

Simbah menyindirku lagi. Simbah badannya sakit semua jika lama tidak ke kebun, simbah yang sakit memaksakan dirinya untuk tetap menengok kebun kesayangannya. Simbah yang semakin tua masih menebar harapannya untuk 1000 tahun lagi. Aku, tidak bisa lagi menyombongkan kemudaanku di depan simbah. Aku lebih banyak mengeluh, tentang ini tentang itu, masih berkutat dengan penilaian diri di depan orang lain. Boro-boro memikirkan orang lain, peduli dengan yang lain. Aku masih suka sibuk dengan diriku sendiri, bahkan sikut sana-sini demi merasa "sedikit lebih baik" dari yang lain. Apalagi memikirkan warisan untuk anak-cucu....jauh dari pikiranku simbah.

Kupanjatkan doa untuk simbah, semoga simbah sehat dan panjang umur, bahagia hingga nanti di akhir hidupnya. Simbah yang tidak pernah minta apa-apa, hanya minta diijinkan mengunjungi kebunnya setiap hari demi memastikan bibit pohon harapannya tumbuh dengan sempurna yang akan simbah persembahkan untuk anak cucunya kelak.

Sabtu, 11 Mei 2013

Anak 6 tahun itu terancam dicabut 14 giginya


Lho kenapa...?
Saat itu gadis kecil yang baru berumur 6 tahun mengantar ibunya ke sebuah rumah sakit gigi terdekat bersama sang ayah. Awalnya hanya mengantarkan ibunya untuk memeriksakan giginya yang sedang bermasalah. Lalu ayahnya mendapat ide untuk sekaligus mengecek kesehatan gigi putrinya tersebut. Tak lama kemudian, gadis kecil itu diminta me-rongsen seluruh giginya di lab yang ada di sebelah ruangan periksa gigi. Alhamdulillah di RS itu semua lab lengkap jadi bisa segera dilakukan hari itu juga, dan hasilnya juga bisa segera diketahui sesaat setelah rongsen.

Hasil tes yang sangat mencengangkan, yang pertama gadis itu mengalami caries gigi yang menurut dokter setempat sangat parah, yang kedua karena tingkat keparahan yang mengkhawatirkan maka dokter memutuskan agar ke 14 gigi gadis cilik itu dicabut secara bersamaan melalui prosedur operasi. Deg...kedua orang tuanya shock mendengar kabar itu, bagaimana rasanya melihat putri manisnya sekecil itu harus mengalami hal yang disebut "operasi". "Apakah tidak bisa dicabut sebagian dulu dok? Bertahap?", tanya sang ayah. "Prosedurnya akan semakin rumit, dan akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihannya", jawab sang dokter dengan tenang. "Jika setuju dengan prosedur kami, akan segera kami buatkan jadwal operasi agar tidak terjadi infeksi", lanjut dokter sambil menyerahkan kertas yang harus kami tanda-tangani, disitu tertulis jadwal operasi yang tertanggal bulan depan.

Operasi cabut gigi sebanyak 14??? Begitu kata yang terus terngiang-ngiang di benak kedua orang tua gadis kecil itu. Lantas sisa berapa gigi anakku? Bagaimana dia akan makan? Sakitkah nanti? Berapa lama dia akan kembali pulih seperti semula? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus muncul bergantian di pikiran kedua orang tuanya.

Selama perjalanan pulang, dan setelah berdiskusi kilat, akhirnya kedua orang tua itu mengambil langkah-langkah mencari solusi, yaitu:
1. Mencari opini kedua
Akhirnya selama perjalanan pulang, kedua orang tua gadis itu mendatangi klinik gigi dan mendaftarkan gadis kecil itu untuk cek gigi disana, serta menjelaskan apa yang dialami gadis kecilnya, dengan harapan ada solusi yang lebih mudah dan tidak menyakitkan bagi anaknya.  Meski saat operasi nanti sebenarnya si anak akan menerima bius total melalui gas yang dianggap aman dan tidak menyakitkan bagi anak-anak. Tapi kalau harus kehilangan 14 gigi sekaligus, rasanya tetap saja ngeri. Akhirnya disusunlah jadwal cek yang mendahului jadwal operasi.

2. Mencari opini dari orang tua yang berpengalaman
Alhamdulillah orang tua gadis kecil itu menemukan pasangan orang tua yang juga mengalami hal yang sama, anak mereka laki-laki dan telah menjalani operasi cabut gigi sebanyak 12. Awalnya mereka juga mengalami kekhawatiran yang sama dengan yang dialami orang tua si gadis, namun Alhamdulillah semua bisa dilewati juga. Mereka berpesan bahwa setelah operasi nanti siapkan saja makanan yang lembut-lembut seperti bubur atau pouridge yang banyak tersedia di toko dengan beragam rasa. Ibu si gadis merenung, makanan lembut? Selama ini gadis kecilnya sama sekali tidak menyukai hal-hal berbau bubur-buburan, semenjak bisa mengunyah makanan padat, gadisnya tidak mau lagi makan bubur, jangankan untuk makan, melihatnya saja, anak gadisnya sudah merasa eneg dan mulai mual. Si ibu menarik nafasnya dalam-dalam.

Setelah berupaya mencari solusi, akhirnya orang tua si gadis memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan, yaitu meng-cancel operasi, alias tidak mengikuti saran yang diberikan dokter, tentu saja dengan resiko yang harus ditanggung sendiri oleh orang tua si gadis jika nanti sepanjang perjalanan waktu ada apa-apa terkait kesehatan gigi ananda mereka. Mereka berharap hanya dengan kontrol ke dokter praktek dan melakukan perawatan sedemikian rupa termasuk diet ketat makanan manis-manis yang harus dijalani, gadis terhindar dari sakit gigi yang lebih parah akibat caries yang diderita.

# Kontrol pertama ke dokter praktek
Orang tua menjelaskan kepada dokter gigi apa yang dialami oleh anak semata wayangnya, termasuk keputusan-keputusan yang telah diambil yaitu meng-cancel operasi. Dokter lalu memeriksa gigi anak itu, lalu menjelaskan bahwa caries giginya memang termasuk parah dan dikhawatirkan jika tidak segera ditangani akan terjadi infeksi yang dapat mengganggu kesehatannya. Lalu terjadilah dialog seperti berikut
Dokter:  "Kalian berasal dari mana?"
Orang tua: "Indonesia Dok"
Dokter: "Apakah anakmu sama sekali tidak pernah kamu bawa ke dokter gigi?"
Orang tua: "Beberapa kali Dok, terakhir 6 bulan yang lalu sebelum kami berangkat kesini".
Dokter: "Apa yang dilakukan dokternya?"
Orang tua: "Menambal bagian-bagian gigi yang keropos...."
Dokter: "Lalu tambalannya lepas semua? Saya cek tidak ada tambalan sama sekali".
Orang tua: "Maaf saya tidak tahu itu".
Dokter: "Apakah anakmu kamu kasih minum di botol?"
Orang tua: "Iya kira-kira mulai usia 1 tahunan"
Dokter: " Apa isinya?"
Orang tua: "Susu"
Dokter: "Pernah kamu isi dengan jus?"
Orang tua: "Tidak pernah hanya susu saja....".
Dokter: "Soalnya anakmu terindikasi terlalu banyak mengkonsumsi yang manis-manis...?".
Orang tua: "Em......apa mungkin karena susunya berasa manis?"
Dalam hati sang ibu jadi teringat bahwa semua susu formula yang dulu pernah diberikan pada anak gadisnya sewaktu balita dulu berasa manis, dan biasanya sang ibu memberikannya menjelang anak gadisnya akan tidur. Sang ibu tertegun sejenak, ada secuil rasa bersalah di sana....benarkah susu formula yang disodorkan pada anak kesayangannya sewaktu balita dulu telah menyumbangkan caries gigi pada anaknya? Deg....

Pemeriksaan tahap pertama selesai, dokter menyarankan agar si anak menjalankan diet ketat, dan meningkatkan kebersihan gigi dan mulut. Menghindari gula seperti permen dan minuman berasa manis, menghindari makanan kecil di luar jam nge-mil, memperbanyak minun air putih, menggosok gigi setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam tidak boleh dilewatkan. Kesimpulan terakhir, dokter akan bernegosiasi dengan pihak rumah sakit agar gigi yang cabut hanya 7 dengan pertimbangan yang paling parah saja dan tidak mungkin diselamatkan lagi. Sementara gigi yang lain akan diusahakan dirawat, karena jika gigi sebanyak itu dicabu sekaligus, ada kemungkinan si kecil akan kesulitan beradaptasi saat makan, selain itu ada beberapa gigi yang baru akan tumbuh nanti saat memasuki usia 12 tahun, dan itu masih lama.

Orang tua sangat bersyukur mendengar keputusan itu, paling tidak hanya separuh dari target gigi keseluruhan yang akan dicabut.

Sambungan 1

#Kontrol kedua ke dokter praktek
Si gadis kecil nampak cemas, ia berkali-kali menanyakan ke ibunya apakah giginya akan dicabut hari ini. Ayahnya menenangkan bahwa dokter hanya akan memeriksa lagi giginya, dan menanyakan apakah nasehat dokter sudah dijalankan dengan baik oleh gadis kecil itu atau tidak. "Aku kan sudah tidak makan permen lagi...gigiku pasti sudah sembuh, iya kan Mi?". "Iya", jawab ibunya datar, sedikit cemas sebenarnya.

"Take a seat sweetheart, how are you?", kata dokter sambil mempersilahkan gadis kecil itu untuk duduk di kursi periksa. Tak lama kemudian dokter itu sudah tenggelam memeriksa dengan teliti gigi-gigi si kecil. "Ow...lihat ada yang bengkak rupanya di gusi bagian ini, ini pasti karena terinfeksi oleh gigi yang keropos ini", simpul dokter. Ibu hanya terdiam...menunggu langkah apa yang akan disarankan dokter. "Ok kalau kamu mengijinkan, aku bisa mencabut gigi yang menyebabkan infeksi ini sekarang juga dengan bius lokal(suntik maksudnya) itu juga kalau anakmu tidak merasa terlalu cemas, dan kamu harus menjelaskan kepadanya. Atau kalau kamu juga cemas dengan prosedur ini, aku bisa membuatkan surat ke pihak rumah sakit agar gigi anakmu dicabut disana menggunakan bius total menggunakan masker gas tapi itu lama dan akan memperburuk infeksinya, terserah kamu keputusannya seperti apa", jelas dokter itu panjang lebar.

Si ibu berpikir keras untuk mengambil keputusan yang cepat, antara ingin mengijinkan pencabutan tapi gadis kecilnya harus disuntik, padahal sebelumnya ibu sudah berjanji pada gadis kecilnya bahwa hari ini hanya untuk periksa saja, dan bukan cabut.... di lain sisi jika menunggu lama, bisa saja infeksinya semakin memburuk dan akan menggangu kesehatan gadis kecilnya. Si ibu berpikir sambil memandangi wajah gadis kecilnya yang terlihat heran dengan ekspresi wajah ibunya. Gadis kecil itu nampaknya juga penasaran dengan apa yang telah disampaikan dokter gigi itu sehingga wajah ibunya menjadi berubah sedemikan rupa.

Ibu menarik nafas dalam-dalam dan mulai menjelaskan kepada gadis kecilnya tentang apa yang disampaikan dokter, dan berharap bahwa keputusan untuk mencabut giginya hari ini tidak terlalu membuatnya sangat kecewa karena menganggap ibunya telah berbohong. Ibu juga menjelaskan dengan bahasa sederhana mengapa harus cabut gigi hari itu juga, bagaimana cara mencabutnya, harus disuntik dulu, seperti apa rasanya disuntik, si ibu mempergakan dengan mencubit punggung tangan anak gadisnya dan seterusnya...dan seterusnya. Terakhir, si ibu menjanjikan hadiah jika gadis kecilnya bisa mengikuti prosedur hari ini dengan baik. Sebenarnya ibu agak keberatan menjelaskan tentang prosedur pembiusan dengan suntik, namun dokter berkali-kali menanyakan pada si ibu untuk memastikan bahwa gadis kecilnya tahu jika akan disuntik terlebih dahulu gusinya. Dalam hati si ibu punya pikiran lain, lewati saja bagian suntik itu, nanti tiba-tiba langsung saja disuntik, dengan demikian gadis kecilnya tidak akan merasa terlalu cemas, namun tidak demikian dengan dokternya. Dokter merasa perlu memastikan bahwa pasiennya mengetahui apa saja yang akan dialaminya, dan memastikan pasien mau menerima prosedur ini untuk kebaikan pasien tentu saja. Huf.....pasti tugas yang tidak mudah buat si ibu.

"Selesai dokter", kata si bu, "semua sudah saya jelaskan", lanjutnya. Wajah anak gadisnya tiba-tiba meringis...dan kaki-kakinya mulai bergerak, mungkin itu ekspresi antara ingiin menangis, berontak, atau pasrah. Si ibu mencoba menunjukkan wajah tabah dan selalu tersenyum untuk meyakinkan putrinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Sambungan 2

Dokter mulai mengambil alat suntik, sambil menghitung dengan nada riang, tiba-tiba saja jarum itu telah mendarat di gusi gadis kecil itu sebanyak 2 kali. Gadis kecil itu menerimanya dengan wajah mengerut, menahan sakit, mungkin. Setelah itu, menunggu beberapa saat dan meyakinkan agar biusnya sudah benar-benar bekerja. Beberapa menit kemudian, perawat menyodorkan sebuah alat sebentuk tang yang segera disambut oleh dokter dengan cekatan, mungkin dengan maksud agar alat itu tidak terlihat vulgar di mata pasien kecilnya. Setelah itu sambil mengajak ngobrol dan meminta gadis kecil agar membuka mulutnya lebar-lebar, dokter gigi itu dengan cekatan menjepit gigi yang sakit, menggoyang-goyangkannya sebentar, lalu...."Nah ini dia....gigimu yang sudah rusak, kamu mau menyimpannya dan memberikannya pada peri gigi?" tanya dokter itu. Gadis kecil itu menjawab dengan anggukan. Si ibu tersenyum lega.....

#Kontrol ketiga ke dokter praktek
Kali ini si ayah yang mengantar gadis kecil untuk ke dokter gigi. Kontrol kali ini jeda selama 1 bulan setelah pencabutan gigi. Agendanya adalah pencabutan gigi selanjutnya, ada 2 gigi yang rencananya harus segera dicabut karena telah menyebabkan infeksi juga pada gusinya. Kasusnya sama dengan pencabutan gigi pertama, hanya berbeda jumlah gigi saja.

Gadis itu berangkat ke dokter gigi dengan riang gembira karena ayahnya menjanjikan jika dirinya bisa bekerjasama dan menurut dengan apa yang diminta dokter dengan baik, maka dia akan mendapatakan baju princess beserta tiaranya. Itulah saat yang paling dinanti-nanti oleh gadis kecil itu. Meski tahu giginya akan dicabut lagi, namun dia tidak mencemaskannya kali ini.

Sesampainya di ruangan dokter, gadis kecil itu segera duduk di kursi pasien, siap diperiksa. Dokter bertanya-tanya sedikit, setelah itu melaksanakan prosedur. Nampaknya si ayah lebih tegar menunggui gadis kecilnya untuk dicabut giginya. Suntik segera dilakukan, dan.....tibalah saat pencabutan. Alhamdulillah gigi yang pertama sudah berhasil dikeluarkan, giliran gigi yang kedua.....o...o...wajah gadis kecil itu menunjukkan ekspresi sangat kesakitan, nampaknya lebih sakit daripada gigi yang pertama tadi. Dokter juga membutuhkan waktu yang agak lama untuk mencabutnya. Berusaha menggoyang-goyangkan giginya, ke kiri ke kanan....gadis kecil itu meringis, semakin meringis, dan ....akhirnya berhasiljuga gigi yang kedua dicabut. Dokter menanyakan apakah gigi-giginya akan disimpan seperti sebulan yang lalu untuk diberikan kepada peri gigi? Gadis kecil itu sudah tidak berminat lagi menjawab pertanyaan itu rupanya. "Oke aku saja yang akan menyimpan dan memberikannya pada peri gigi", sambung dokter gigi itu kemudian, memahami bahwa gadis kecil itu masih kesakitan dan tidak peduli lagi dengan gigi maupun perinya.

Sambungan 3

Segera ayah berpamitan ke dokter sambil mennggandeng tangan kanan gadis kecilnya. Gadis kecil itu hanya diam saja, berjalan keluar ruangan tanpa senyum, nampak matanya yang memerah dan sesuatu tertahan di bibir mungilnya. Begitu keluar dari pintu....."Hu......uuu...." gadis kecil itu menangis sambil terisak-isak seperti berat, semenjak dari tadi dia menahan tangisan itu rupanya. Si ayah segera memeluk dan menggendong gadis kecil kecilnya itu, menuju ke rumah, naik bus tentunya karena biar segera lekas sampai di rumah dan gadis kecilnya segera bisa beristirahat.

Sepanjang perjalanan di bus, si ayah terus menceritakan kejutan yang akan di dapat gadis kecilnya begitu sampai di rumah, berharap gadis kecilnya segera terhibur dan sedikit melupakan rasa sakitnya. " Kakak sudah ok, sudah mau nurut sama dokter jadi kakak nanti dapat hadiah....baju princess, kita lihat nanti baju princessnya warna apa ya...", bujuk si ayah. Gadis kecilnya hanya terdiam menyembunyikan wajahnya di bahu si ayah sambil sesekali sesenggukan.

Si ibu segera menyambut kedatangan ayah dan anak begitu mereka sampai di rumah. "Lho...kenapa kakak?", tanya ibu begitu melihat wajah kakak yang terlihat habis menangis. "Hu...u....", gadis kecil itu melanjutkan tangisannya lagi, kali ini pelukan si ibu yang menenangkannya. Panjang lebar si ayah bercerita sambil tangannya mengambil bungkusan di dalam lemari pakaian. "nah ini dia hadiahnya....buat kakak yang sudah pintar dan berani....", kata ayah sambil menyerahkan bungkusan hadiah itu ke tangan gadis kecilnya. Sambil malu-malu, gadis kecil itu melepas pelukan ibunya dan beralih memeluk hadiah itu. Baju princess warna biru yang dijanjikan si ayah jika gadis kecilnya berani ke dokter gigi untuk yang kesekian kali. Gadis kecil itupun tersenyum tipis ke ayahnya karena masih sedikit  menahan tangis.

#Kontrol keempat ke dokter praktek
Kali ini agendanya adalah membersihkan dan menambal gigi-gigi yang berlubang. Giliran ayah lagi yang mengantar gadis kecilnya. Hari itu gadis kecilnya nampak lebih cemas dari sebelum-sebelumnya, mungkin masih trauma dengan cabut gigi yang terakhir dihadapinya. Si ayah menangkap kecemasan itu dan berusaha menenangkan, namun kali ini tidak ada hadiah yang dijanjikan ayah buat gadis kecilnya. Sesampainya di tempat dokter, seperti biasa, dokter menyambut dengan ramah, menanyakan kabar, dan meminta gadis kecil itu duduk di kursi periksa.

"Hari ini aku akan menambal gigi yang ini dan yang ini, tapi sebelumnya aku harus membersihkan gigi yang ini, ini, dan ini." Jelas dokter gigi itu., si ayah menjawab dengan anggukan. "Apakah dia ok jika aku memberinya anestesi dengan suntikan (injection)?", tanya dokter. Mendengar kata injection, wajah gadis kecilo itu langsung berkerut dan menggeleng. Ayah segera paham dan mencoba menjelaskan ke dokter bahwa gadis kecilnya sangat merasa tidak nyaman jika harus menerima suntikan lagi karena masih merasa trauma dengan yang dirasakan saat kontrol sebelumnya. "Ok, kalau gitu aku tidak akan menyuntiknya lagi, tapi harus tahan sakit sedikit ya", jelas dokter itu.

Dokter segera menyiapkan peralatan, dibantu oleh perawatnya. Tak lama kemudian, dokter dan perawat itu telah memusatkan perhatiannya pada gigi-gigi mungil gadis kecil itu. Bunyi peralatan dokter itu memang bising dan menakutkan....sesekali wajah gadis kecil itu meringis. "Well done." kata dokter sesekali untuk menyemangati gadis kecil itu, lalu kembali tenggelam dalam deretan gigi-gigi mungil si gadis kecil.

Sekian lama kemudian, dokter melepas sarung tangan dan kaca mata di wajahnya, mulai berbicara pada si ayah. "Ok semua sudah selesai, aku sudah menambal bagian yang ini dan yang ini, yang ini juga aku tambal agar caries giginya tidak bertambah buruk. Aku tidak akan mencabut giginya lagi, itu tidak perlu karena beberapa gigi yang lain sudah mulai goyang jadi hanya perlu menunggu waktu saja agar giginya terlepas secara alami. Sekarang tugasnya tinggal rajin-rajin menjaga kebersihan giginya, dua bulan lagi kontrol. Are you ok honey?" sambil melihat ke wajah gadis kecil yang masih duduk di kursi periksa.

Senyum lega nampak di wajah si ayah karena kekhawatirannya tidak terjadi, kekhawatiran bahwa gadis kecil kecilnya akan menghadapi operasi cabut gigi sebanya 14, wow....  Semuanya bisa terlewati dengan baik tanpa operasi. Keduanya berjalan menuju halte bus dengan senyum lega.......Alhamdulillah.

Ayah, ibu, dan gadis kecil itu sekarang semakin mengerti dan memahami betapa pentingnya memperhatikan gigi yang sebelum-sebelumnya hanya dianggap sambil lalu saja. Selain itu banyak masukan-masukan dari dokter gigi tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan cara-caranya, tidak hanya sekedar rajin menggosok gigi dengan pasta gigi, namun perlu diperhatikan kebutuhan flouridenya, serta diet makanan yang dapat menyebabkan caries gigi, juga menentukan jadwal yang tepat kapan harus menggosok gigi ataupun menentukan jam makan camilan.

*Cerita ini berdasarkan kisah nyata.
*Segala bentuk detail percakapan dan kejadian ada yang ditambah dan dikurangi oleh penulis tanpa mengurangi maksud dan inti cerita.
*Selamat menikmati, dan semoga pembaca dapat mengambil manfaatnya.
*Terimakasih juga buat teman-teman yang selalu menyemangati penulis untuk segera menyelesaikan tulisan ini, Uni Kiki, dan mbak Indah selamat membaca :-)