Sabtu, 05 April 2014

Hiburan di Cuaca Sendu


Seminggu yang lalu kami jalan-jalan ke City Centre. Meskipun suasananya berkabut, kami sudah bertekad untuk menikmati hari bersama keluarga. Biasanya sih ke sana berjalan kaki, namun karena selain cuaca berkabut, suhu agak dingin, dan abinya Ara masih dalam proses pemulihan, jadi kami memutuskan untuk naik bis.

Kami kira suasana di City akan sepi, ternyata tetap ramai seperti biasanya. Di sepanjang pertokoan, banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang, dan juga banyak pengamen menjajakan seninya di spot-spot yang menurut mereka strategis. Ada yang bermain gitar sambil bernyanyi, bermain terompet, di sudut yang lain ada seniman pembuat patung dari pasir yang berbentuk anjing dan tulang mainannya.

Ada sekelompok anak muda dengan alat-alat musik sederhananya yang menarik perhatian kami, mereka menghimpun dana untuk sebuah lembaga amal untuk penderita kanker. Mereka sedang beraksi, segera saja kami abadikan moment menarik ini. Silahkan menikmati.



Melihat hiburan tersebut, banyak hal yang terfikir dalam diri saya, dan kekaguman-kekaguman terhadap mereka. Saya pribadi memetik banyak nilai positif di balik kegiatan ini, antara lain:

  1. Kreatifitas: alat musik yang mereka gunakan bukan alat musik yang biasa kita temui, melainkan alat musiknya berasal dari barang bekas seperti drum besar kosong, yang terlihat berwarna kuning di bagian belakang, drum kecil di barisan tengah, serta besi melengkung yang mirip wajan. Bahan-bahan tersebut mampu menghasilkan musik yang indah berkat kepiawaian mereka.
  2. Kesamaan hak dalam berpasrtisipasi: mereka terdiri dari anak-anak dan orang dewasa dengan usia yang beragam, dan mereka bekerjasama berdasarkan kemampuan mereka masing-masing.
  3. Kepercayaan diri: dengan diberikannya kesempatan pada anak-anak bekerjasama dengan anak lain yang usianya lebih dewasa dari mereka, secara tidak langsung telah menumbuhkan rasa percaya diri mereka, dan perasaan di terima oleh orang di sekitarnya.
  4. Saling menghargai: mereka yang lebih dewasa memberikan kesempatan yang sama pada mereka yang lebih muda.
  5. Empati, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar: mereka-mereka yang bergabung dalam aksi ini secara tidak langsung telah mengembangkan dan menumbuhkan rasa empati mereka terhadap suatu kelompok yang ingin mereka bantu, dalam hal ini adalah orang-orang yang menderita kanker. Meskipun dalam cuaca yang dingin, mereka terlihat semangat bermain musik untuk penggalangan dana.

Glossary Ala Ara


Bismillahirohmanirohiim

Beberapa hari yang lalu Ara ingin membuat glossary. Padahal tidak ada PR ataupun tugas dari sekolah. Dia hanya terinspirasi dari apa yang dibilang oleh guru di sekolahnya, bahwa kalau dia merasa kesulitan untuk mengetahui arti dari sebuah kata yang terdapat dalam sebuah buku, maka tinggal melihat glossary saja, yang biasanya terletak di bagian paling belakang halaman buku.

Maka dengan berbekal pemahamannya sendiri dan buku kamus oxford milik abinya, jadilah glossary buatannya. Isinya seperti ini:

  • Habitat: habitat is a home for all of the animals. If an animal have a house some people called it habitat.
  • Ice Age: noun, one of the long periods of time, thousand of years ago, when much of the earth's surface was covered in ice.
  • Igloo: igloo is a house made of snow.
  • Competition: competition is a bit like a race.
  • Earth: earth is a planet that human and animal live.
  • Mars: planet mars is a very hot planet.
  • Winter: winter is a very cold weather
  • School: school is for children learning.
  • Pured: pured is like a cat saying meow.
  • Chatter box: chatter box is like people talk a lot.
Itulah beberapa kata pilihan Ara yang dituliskan untuk dijadikan glossary. Sebagian artinya didasarkan pada pemahamannya sendiri, dan sebagian yang dia tidak mengerti, dia tuliskan artinya dari kamus oxford tersebut. Masih ada beberapa kosa kata yang penulisannya kurang tepat, namun saya biarkan saya dan tidak menginterupsi kesalahannya untuk segera dibetulkan. Saya masih ingin mengembangkan minat menulisnya dulu.

Menurut pemahaman saya, jika terlalu sering diinterupsi, saya khawatir dia malah enggan menulis, karena tidak lagi menyenangkan dan santai melainkan menjadi sesuatu yang menegangkan dan terlalu serius buatnya.

Nyanyian Liburan


Yeyyyy..............libur telah tiba...libur telah tiba....hati ku gembira.............
#nyanyi dan berekspresi ala tasya :-)

Alhamdulillah mulai hari ini Ara libur sekolah, libur pula kursus an saya. Beberapa hari sebelumnya memang sungguh terasa berat untuk memulai aktifitas di pagi hari dengan cuaca di Newcastle yang selalu terlihat mendung, berawan, mood berasa sedih, lunglai, tidak bergairah. Ya begini deh hasilnya kalau mood tergantung suasana outer padahal harusnya kan bisa kontrol dari dan diniatkan dari dalam hati ya....

Suasana pagi ini tidak semendung yang kemarin, terlihat sedikit bias-bias cahaya matahari yang menembus kaca jendela berembun. Cukupklah suasana pagi itu menambah semangat hari libur. Mari menyusun rencana liburan, mau ke mana kah kita? Mau melakukan apa kah kita? Mari berpetualang dimana saja, menambah ilmu dan bersenang-senang. Bisa di dalam kamar, di ruang tamu, di dapur, di halaman belakang rumah, atau menelurusi dunia maya, mengintip sedikit jendela dunia.

Kalau hari cerah, bolehlah kita ke museum, ke pasar sayur, ke swalayan, ke taman, ke perpustakaan, ke stasiun, ke mana saja yang hati inginkan. Ilmu berada dimana-mana, liburan tak menghalangi kita mencari dan menambah ilmu. Tak hanya di sekolah, ruang sekolah hanya prototipe saja, ilmu yang sebenarnya terhampar luas di jagad raya ini.

Kita bisa belajar apa saja, ilmu alam, berhitung, kosa kata, keberanian, ketangkasan, sopan santun, kesabaran, bagaimana menghargai orang lain, mengantri, disiplin, kejujuran, kepemimpinan, kepatuhan, memaafkan orang lain, saling membantu, berperilaku ramah, kepercayaan diri, mengatasi rasa sakit, berdamai dengan kekecewaan. Sebutkan apa saja, kita bisa belajar itu semua.

Selamat datang liburan, ku kan bentangkan lenganku lebar-lebar untuk meraup ilmu semampu yang kubisa :-)

Jumat, 04 April 2014

Good Citizen Award


Hari Kamis kemarin, sepulang sekolah, Ara tampak sangat gembira. Dia menunjukkan sebuah sertifikat yang bertuliskan namanya, dan ada gelar juga di dalamnya "Good Citizen Award". Saya pun turut senang melihatnya, meski tidak tahu pasti apa maksud sekolahnya memberikan award semacam itu.

Baru hari ini kemudian saya tanya dan ngobrol apa alasannya dia mendapat award itu, dan siapa yang menentukan siapa-siapa yang berhak mendapatkan award.

Award ini diberikan oleh pihak kepolisian setempat melalui sekolah-sekolah. Sedangkan yang menentukan siapa yang berhak mendapatkannya adalah melalui voting tertutup teman-teman sekelasnya sendiri. Caranya adalah, guru meminta anak-anak menuliskan sebuah nama dari salah satu temannya yang mereka anggap baik hati, suka membantu ataupun menolong. Kemudian dipilih 1 anak perempuan, dan 1 anak laki-laki yang memiliki suara terbanyak.

Saya bertanya lagi ke Ara, kira-kira kriteria perilaku seperti apa yang dianggap sebagai "baik"? Ara menjelaskan dengan memberikan beberapa contoh, misalnya:

  1. Jika ada anak yang menangis, ya harus didekati dan ditanya kenapa....kalau anaknya diam saja berarti harus lapor ke dinner lady, biar dia yang mbantu.
  2. Kalau ada anak yang bertengkar harus dilaporkan bu guru, biar bu guru yang menyelesaikan. Seperti kata bu guru, "If someone is fighting, you need to tell an adult because that's not the right thing, and dangerous".
  3. Punya banyak teman di sekolah, dan tahu nama-namanya.
Itulah beberapa contoh perilaku yang digambarkan Ara. Benar atau tidak, saya kurang tahu pasti, karena saya hanya mengumpulkan sumber dari seorang anak saja, yaitu Ara he3....

Saya pikir, award semacam ini sangat bagus juga. Karena menghargai anak dari perilaku baik yang telah mereka lakukan. Juga tidak membuat anak menjadi terlalu fokus pada kemampuan akademik saja, melainkan bagaimana mengembangkan kemampuan bersosialisasi mereka. Banyak sekolah-sekolah yang kini tidak lagi menghargai kemampuan anak dalam berbuat baik. Para guru cenderung fokus pada nilai-nilai pelajaran yang anak dapatkan, entah itu dari hasil belajarnya sendiri maupun dari hasil mencontek, asal nilainya tinggi pasti juara 1.

Menghias Telur Rebus


Alhamdulillah hari ini adalah hari terakhir Ara masuk sekolah, minggu depan libur selama 2 minggu untuk spring term. Pada hari Jumat ini di sekolah Ara diadakan kompetisi untuk menghias telur dalam rangka memperingati easter. Sekali lagi saya dan abinya perlu mengambil keputusan, apakah akan ikut atau tidak. Akhirnya kami memutuskan untuk mengijinkan Ara mengikuti kompetisi dengan alasan melatih kreatifitas Ara berkreasi dengan telur. Sejauh ini pemahaman Ara tentang easter hanya sebatas kompetisi menghias telur, dan kami masih belum mengajaknya berdiskusi jauh lagi tentang tema ini.

Baiklah, setelah kami memutuskan untuk memulai menghias telur, sebelumnya Ara saya minta untuk searching di youtube tentang cara-cara menghias telur. Teknik yang paling dia suka adalah membuat motif laba-laba pada telur, bukan pada kulitnya lho, tapi pada telurnya dengan menggunakan bahan pewarna makanan sehingga telur tetap aman untuk dikonsumsi. Berikut caranya:

Telur Motif Sarang Laba-laba
Alat dan bahan:

  • beberapa butir telur rebus (white eggs)
  • beberapa mangkuk berisi air
  • pewarna makanan
  • cuka makan
  • sendok
Cara:
  1. Siapkan mangkuk yang berisi air, tetesi masing-masing mangkuk dengan pewarna makanan sesuai warna yang diinginkan. Untuk 1 mangkuk air, kurang lebih dibutuhkan 2 sendok makan pewarna makanan atau lebih sehingga warna yang dihasilkan akan sangat pekat.
  2. Beri 1 sendok teh cuka pada masing-masing mangkuk.
  3. Aduk dengan sendok sehingga pewarna, air, dan cuka tercampur dengan rata.
  4. Ambil telur, pukul kulit telur dengan menggunakan sendok sehingga timbul retakan-retakan kecil, usahakan retakannya tidak terkelupas.
  5. Lalu masukkan telur ke dalam mangkuk, masukkan kulkas, diamkan selama 2-3 jam.
  6. Setelah warna menempel pada telur, kupas kulit telur, maka akan terlihat motif sarang laba-laba pada telur tersebut.
Saya belum mengambil foto telur dari hasil proses tersebut karena hasilnya keburu dimakan Ara he3..... Telur yang kami beri warna kuning dan merah hasilnya kurang bagus, sedangkan telur yang kami rendam dengan warna biru hasilnya bagus dan sudah mendekati sempurna seperti yang dicontohkan di youtube.

Baiklah, kami bikin lagi dengan teknik yang hampir sama tapi telurnya tidak perlu diretakkan, dibiarkan saja karena kali ini yang ingin kami warnai adalah kulit telurnya. Begitu telur matang, rendam saja ke dalam mangkuk air yang sudah diberi pewarna dan cuka. Setelah menempel warnanya, sekitar 1 jam, keringkan telur dengan menggunakan tisu. Setelah itu hiasi telur dengan stiker atau glitter. 

Ara memilih memakai gliter berbentuk bintang. Kami menempelkannya dengan menggunakan lem cair yang biasanya digunakan untuk mengelem kertas. Nah hasilnya bisa di lihat di foto atas. Menang ataupun tidak dalam kompetisis nanti, yang penting Ara sudah bersenang-senang dengan telur dan mendapatkan pengetahuan baru tentang bagaimana cara-cara berkreasi dengan telur.

Banyak hal yang dipelajari dalam proses ini, antara lain:

  1. Problem solving, yaitu saat Ara menentukan berapa jumlah telur yang akan dihias, menentukan metode apa yang akan dilakukan untuk menghias, menentukan pemilihan warna, dan bahan apa saja yang akan digunakan.
  2. Melatih kesabaran, yaitu saat Ara menunggu proses merebus telur hingga benar-benar masak, menunggu proses saat mencelupkan telur ke dalam mangkuk pewarna yang membutuhkan waktu berjam-jam.
  3. Motorik halus, yaitu saat menggunting bahan, menempelkan glitter, memindahkan telur dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan hati-hati supaya tidak pecah, juga saat membuat retakan-retakan halus pada kulit telur.
  4. Mengenal tahapan sebuah proses dan kerja keras, yaitu bahwa untuk menghasilkan sebuah karya diperlukan tahapan-tahapan yang harus dikerjakan sesuai urutan tertentu agar menghasilkan karya yang baik. Sebuah karya tidak tiba-tiba muncul begitu saja.
  5. Penghargaan terhadap sebuah hasil dan karya, yaitu anak akan lebih menghargai baik hasil karya diri sendiri, maupun orang lain setelah mengetahui proses pembuatannya yang tidak mudah. Intinya mengembangkan kemampuan anak dalam mengapresiasi karya.